Kecewa pada PKB, Mahfud: Selesai Tugas di Partai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Salah satu kandidat calon presiden Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Mahfud MD berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh sebelum melakukan pertemuan tertutup di ruangan kerjanya di DPP partai Nasdem, Gondangdia, Jakarta Pusat, Rabu (30/4). Pertemuan tersebut dilakukan dalam rangka silaturahim sekaligus menjalinkomunikasi politik jelang Pilpres 2014. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Salah satu kandidat calon presiden Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Mahfud MD berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh sebelum melakukan pertemuan tertutup di ruangan kerjanya di DPP partai Nasdem, Gondangdia, Jakarta Pusat, Rabu (30/4). Pertemuan tersebut dilakukan dalam rangka silaturahim sekaligus menjalinkomunikasi politik jelang Pilpres 2014. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Sidoarjo - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md. kecewa terhadap sikap Partai Kebangkitan Bangsa tidak sepenuh hati memperjuangkannya untuk menjadi calon presiden. Sebelumnya, PKB menggadang-gadang Mahfud sebagai calon presiden 2014. 

    "Mungkin iya kecewa (kepada PKB)," kata Mahfud kepada Tempo saat mengunjungi Pondok Pesantren Bumi Shalawat, Tulangan, Sidoarjo, Selasa malam, 20 Mei 2014.

    Namun, rasa kecewa itu, kata Mahfud, tidak berkaitan dengan capres atau cawapres yang telah dipilih PKB. Sebab, PKB hanya menjadi anggota koalisi, sehingga harus mematuhi keputusan ketua koalisi.

    "Karena ketua koalisi PDIP sudah menetapkan yang lain, iya sudah, harus menerima," katanya. Mahfud mengatakan, karena PKB sudah memutuskan capres dan cawapres lain, tugasnya sebagai kader PKB sudah selesai. Dia menyatakan sudah ikut berkampanye dalam pemilihan legisatif sampai mengantarkan PKB berkoalisi dengan partai lain.

    "Namun dalam pilpres nanti saya sebagai person memiliki pilihan sendiri," katanya. Pilihan itu, kata Mahfud, sudah dijatuhkan kepada capres yang lebih mendukung perjuangannya ke depan. Pilihan itu juga didasarkan pada pilihan penggerak gerbong yang dia gunakan, yakni mayoritas ulama NU di Jawa Timur.

    "Jadi, intinya, ketika pileg, mari menangkan partai. Tapi pilpres mari menangkan pilihan sendiri," katanya. Mahfud menyebutkan keputusannya memalingkan dukungan tidak akan menimbulkan masalah dengan PKB. Sebab, dia bukan anggota PKB, apalagi pengurus.

    Jabatan struktural dalam PKB, kata dia, sudah gugur sejak dia menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi. "Yang jelas saya tidak masuk dalam struktural PKB," katanya.
    Mahfud pun mengakui tidak akan ada sanksi atau hukuman yang akan diberikan oleh PKB jika dia jadi mendukung pasangan Prabowo-Hatta. "Kalau dihukum akan diketawakan orang nanti," katanya.

    Sebelumnya, Mahfud selalu ditonjolkan sebagai salah satu capres yang akan diusung oleh PKB. Namun pencalonan Mahfud menemui kendala karena suara PKB tak mencapai target. Akhirnya PKB berkoalisi dengan PDIP untuk mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla dalam pemilihan presiden mendatang.

    MOHAMMAD SYARRAFAH

    Berita Terpopuler:
    Pengamat: Hanya Dua Poros Capres, Jokowi Untung  

    Chairul Tanjung Larang Pembelian Kendaraan Dinas  

    Sperma Tertua di Dunia Ditemukan di Australia

    Ryan Giggs Akhiri Karier di Manchester United

    Disukai Partai Kongsi dan Kiai, JK Jadi Cawapres 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.