Pilih Jokowi, Warga Tionghoa Kampanye Gethok Tular  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Presiden Joko Widodo menggelar kampanye di Pasar Wage dan Pasar Manis Sokaraja, 13 Juni 2014. Dalam orasinya Jokowi memperkenalkan Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar. Tempo/Aris Andrianto

    Calon Presiden Joko Widodo menggelar kampanye di Pasar Wage dan Pasar Manis Sokaraja, 13 Juni 2014. Dalam orasinya Jokowi memperkenalkan Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar. Tempo/Aris Andrianto

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Kalangan warga Tionghoa Yogyakarta tak mau tinggal diam dalam menyambut pemilihan umum presiden kali ini.

    Tokoh Tionghoa Yogyakarta yang juga pendiri perkumpulan Bhakti Putra, Bambang Soekotjo, menuturkan warga Tionghoa di Yogya telah memiliki pilihan. Namun, sikap itu tak diwujudkan dalam bentuk deklarasi dan diketahui publik.

    "Kami tak mau show of force seperti deklarasi demi menjaga kerukunan dan perdamaian," kata Bambang kepada Tempo, Ahad, 22 Juni 2014. (Baca: Dukung Jokowi, Buruh Kampanye dari Pintu ke Pintu)

    Bambang menuturkan dalam menghadapi pemilu presiden yang menyandingkan dua calon presiden, yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto, warga Tionghoa memilih memanfaatkan pertemuan rutin jejaring organisasi guna berdiskusi. Khususnya soal rekam jejak capres.

    "Hasilnya, dari berbagai pertimbangan, sebagian besar memilih Jokowi," kata dia.

    Hasil diskusi rutin itu disebarkan pada kerabat, teman dekat, dan tetangga sehingga menguatkan dukungan untuk Jokowi. Dengan model gethok tular atau dari mulut ke mulut serta dimulai dari lingkungan terkecil.

    "Dari sedikit itu kan lama-lama menyebar, terutama yang tidak tahu atau tak mau tahu," kata dia. (Baca: Demi Nonton Jokowi Debat, Cinta Laura Batal Kerja)

    Sebelumnya, Bambang mengakui ada sinyal imbauan dari Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) pusat untuk mengarahkan dukungan pada Prabowo setelah pertemuan dengan calon presiden koalisi Partai Gerakan Indonesia Raya itu pekan lalu. Namun, imbauan itu dinilai tak akan berpengaruh pada warga Tionghoa di akar rumput.

    "Makanya kami menggelar diskusi sendiri untuk mengantisipasi jika ada klaim-klaim tertentu dari organisasi," kata dia.

    Bambang menuturkan kriteria utama yang menjadi pilihan warga Tionghoa tak jauh beda dengan beberapa pihak yang mengusung Jokowi.

    "Calon itu benar-benar berasal dari rakyat," kata Bambang.

    PRIBADI WICAKSONO


    Berita Lain
    Timnas Senior Menang 4-0 Atas Timnas Pakistan

    Tanpa Jokowi, Ahok: HUT DKI Bak Es Krim tanpa Roti 

    Redenominasi Rupiah Dinilai Tak Bisa Dilakukan pada 2014


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.