Pengamat: Fraksi Demokrat Ciderai Keputusan SBY

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ani Yudhoyono melemparkan bola saat menjadi juru kampanye terbuka di Lapang Tegalega, Bandung, Jawa Barat (30/3). Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan tujuh kabar di depan sekitar para kader, simpatisan dan warga, yaitu soal Pembangunan jalan wilayah selatan Jawa Barat, Pembangunan rel ganda kereta api, Waduk Jatigede, Bandara Kertajati, Universitas Siliwangi Tasikmalaya dan Politeknik Subang, 86,4 juta orang sudah bisa mendapatkan jaminan kesehatan, dan Undang-undang Desa. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ani Yudhoyono melemparkan bola saat menjadi juru kampanye terbuka di Lapang Tegalega, Bandung, Jawa Barat (30/3). Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan tujuh kabar di depan sekitar para kader, simpatisan dan warga, yaitu soal Pembangunan jalan wilayah selatan Jawa Barat, Pembangunan rel ganda kereta api, Waduk Jatigede, Bandara Kertajati, Universitas Siliwangi Tasikmalaya dan Politeknik Subang, 86,4 juta orang sudah bisa mendapatkan jaminan kesehatan, dan Undang-undang Desa. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO , Jakarta-Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Syamsuddin Haris menilai dukungan dari mayoritas anggota fraksi Partai Demokrat terhadap pencalonan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sebagai calon presiden dan wakil presiden bertentangan dengan sikap resmi partai. "Deklarasi ini bisa dikatakan manuver politik yang menciderai keputusan SBY," kata Syamsuddin pada Tempo, Senin, 16 Juni 2014.

    Menurut dia sesuai keputusan rapat pimpinan nasional Demokrat, Ketua Umum partai Susilo Bambang Yudhoyono sudah menyatakan partainya bersikap netral. Yudhoyono juga mengumumkan partainya tak berkoalisi pada salah kubu yaitu Prabowo-Hatta dan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

    Sikap netral Demokrat kata Syamsuddin harusnya tak diartikan oleh politikus partai dengan bebas menyatakan dukungan dan menggalang massa untuk memilih salah satu pasangan. Syamsuddin mengatakan, sesuai etika, netral harus diartikan dengan tidak menggiring dukungan pada salah satu calon hingga pemilihan presiden dilakukan 9 Juli nanti. "Sikap politik individual mestinya tidak dipertontonkan atau dideklarasikan secara publik."

    Pagi tadi, mayoritas anggota fraksi Demokrat mendeklarasikan dukungan untuk pasangan Prabowo-Hatta. Koordinator deklarasi yang juga ketua Fraksi Dmeokrat, Nurhayati Ali Assegaf mengatakan terdapat 115 dari 148 anggota fraksi yang sudah menyatakan dukungan. Dia yakin dukungan itu tak bertentangan dengan sikap partai.

    IRA GUSLINA SUFA


    Berita Terpopuler:
    Penumpang Garuda Indonesia Meninggal di Udara
    Jokowi Dianggap Terlalu Banyak Mengulang KJP-KJS
    Putra Prabowo Mengaku Tak Pernah Dikritik Ayahnya
    Sony Xperia M2, Ponsel Hiburan Bergaya Premium


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.