Penculikan Aktivis, Prabowo: Saya Bertanggung Jawab

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prabowo Subianto. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Prabowo Subianto. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon presiden dari poros Partai Gerindra Prabowo Subianto terus dirongrong kasus penculikan aktivis 1998 ketika dia masih aktif berdinas di militer. Beberapa pekan terakhir, di media sosial beredar surat bernomor KEP/03/VIII/1998/DKP yang menyebut sebelas pertimbangan yang menjadi latar belakang rekomendasi pemecatan Prabowo di militer. Pertimbangan itu antara lain, penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran prosedur, seperti pengabaian sistem operasi, hierarki, serta disiplin hukum di lingkungan ABRI.

    Surat rekomendasi pemecatan Prabowo ditandatangani Ketua Dewan Kehormatan Perwira Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo dan enam anggota berpangkat letnan jenderal, yaitu Djamari Chaniago, Fachrul Razi, Yusuf Kartanegara, Agum Gumelar, Arie J. Kumaat, serta Susilo Bambang Yudhoyono. Belakangan, kepada Tempo, Fachrul Razi dan Agum Gumelar, mengatakan surat itu valid, bukan rekayasa.

    Setelah beredarnya surat itu, Tempo dalam beberapa kesempatan meminta Prabowo untuk diwawancarai soal itu. Namun, dia belum memberikan respon. Sebelumnya pada 3 November 2013, kepada Tempo, Prabowo sudah menjelaskan soal tuduhan penculikan tersebut. Berikut ini kutipan wawancara dengan Prabowo ketika itu.

    Bagaimana Anda menjelaskan kasus penculikan aktivis ke pemerintah asing?

    Ya, saya katakan, kadang dalam pemerintahan, kita sebagai alat pemerintah menjalankan misi yang dianggap benar. Begitu ada pergantian pemerintah, pemerintah baru menganggapnya tidak benar. Saya kan hanya petugas saat itu. Tapi setelah pergantian, nilai-nilai yang lama dibilang  salah. Pembunuhan Munir, masak Prabowo disuruh tanggung jawab? Penembakan Theys Hiyo Eluay, masak Prabowo lagi? Saya kira Amerika sudah paham.

    Dalam penculikan aktivis, Anda cuma melaksanakan tugas?

    Ya. Sesuatu yang dibilang benar pada saat itu, begitu ada pergantian rezim, lalu dinyatakan salah. Saya tidak ke mana-mana, saya bertanggung jawab, saya tidak ngumpet. Persoalannya apa?

    Benarkah ada tim lain di luar Tim Mawar Kopassus yang melakukan penculikan pada 1997-1998?

    Mungkin banyak tim, tapi saya tidak tahu. Saya hanya salah satu, kan ada beberapa belas panglima. Dari segi hukum, saya tidak bisa bicara. Kan, saya tidak punya bukti. Ini masalah hukum. Apa yang menjadi porsi saya, saya sudah bertanggung jawab. Saya tidak ke mana-mana, ada di sini. Orang yang dulu saya culik malah datang ke saya, berterima kasih ke saya. Malah mereka memperjuangkan saya jadi presiden. Sebagian besar sudah bergabung  dengan Gerindra, sebagian sudah ada yang jadi DPR, calon anggota DPR, atau jadi anggota biasa.

    Bagaimana Anda mendekati mereka?

    Pakai akal sehat, jurus akal sehat. Setelah kita lihat, duduk, nilai yang kita perjuangkan sama: keadilan  sosial.

    FEBRIANA FIRDAUS|MAJALAH TEMPO


    Berita Lain
    Anak Tukang Becak Ini Terima Beasiswa ke Inggris
    Sumbangan untuk Jokowi-JK Capai Rp 35 Miliar
    Moderatori Debat Capres, Erani Ungguli Tiga Ekonom




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.