Prabowo: Peristiwa '98 Bikin Saya Terkejut  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum DPP Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan Polri (Pepabri), Agum Gumelar (tengah) berjabat tangan bersama Calon Presiden Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto (kanan) dan Tokoh Militer, Yunus Yosfiah(kiri) sebelum menggelar jumpa pers terkait pertemuan mereka di Kantor Pepabri, Jakarta Pusat, Selasa (22/4). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua Umum DPP Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan Polri (Pepabri), Agum Gumelar (tengah) berjabat tangan bersama Calon Presiden Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto (kanan) dan Tokoh Militer, Yunus Yosfiah(kiri) sebelum menggelar jumpa pers terkait pertemuan mereka di Kantor Pepabri, Jakarta Pusat, Selasa (22/4). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Pembina sekaligus calon presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto, mengaku terkejut melihat situasi Indonesia pada 1998. Pengakuan ini disampaikan Prabowo saat bertemu Ketua Umum Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri), Agum Gumelara, dan sejumlah petinggi Pepabri di kantor organisasi itu di Jakarta, Selasa, 22 April 2014.

    Pertemuan itu berlangsung tertutup. Namun wartawan yang berada di luar ruangan, bisa mendengarkan pembicaraan itu karena pengeras suara yang dipakai Prabowo Subianto terbuka dan terdengar, hingga ke luar ruang pertemuan. Belasan wartawan yang ada di luar ruangan menyimak. "Kejadian tahun 1998 itu merupakan sesuatu yang mencengangkan buat saya," kata Prabowo. (Baca: Penculikan Aktivis, Prabowo: Saya Tidak Ngumpet)

    Dalam pertemuan itu, Prabowo menjelaskan kalau sebelum tahun 1998, Indonesia adalah negara yang disanjung dunia Barat dan dianggap sebagai "Macan Asia" karena selama 20 tahun berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi di kisaran delapan persen. Bekas Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu menyebut, belum ada prestasi seperti itu selain yang dicapai Cina sekarang.

    Prestasi selama bertahun-tahun itu, menurut Prabowo, runtuh begitu saja pada 1998. Kondisi ini kata Prabowo, menjadikan beban bagi dirinya sebagai seorang prajurit yang dibina untuk selalu setia kepada bangsa. Apalagi di tahun itu, ada anggapan bahwa seolah-olah ABRI tak mampu mempertahankan UUD 1945 sehingga kemudian diamandemen berkali-kali sampai sekarang.

    Dalam pertemuan itu, Prabowo tak mau merinci akibat kondisi di tahun itu. Namun dengan lengsernya Soeharto, Prabowo mengaku merasa kena dampak. Sejak tak lagi di TNI, Prabowo mendapat segala macam predikat dan cerita. Ia pun siap memberikan klarifikasi.

    Berdasarkan informasi yang diperoleh Tempo, penggagas pertemuan ini adalah mantan Kepala Staf Umum Markas Besar TNI Lentnan Jenderal (Purn) Johannes Suryo Wibowo. Adapun Agum dikenal sebagai pengkritik Prabowo ihwal pelanggaran hak asasi manusia pada 1998. Agum adalah anggota Dewan Kehormatan Perwira yang merekomendasikan Prabowo dipecat dari militer pada 1998. Prabowo kala itu melakukan tindakan di luar kewenangannya.

    PRIHANDOKO

    Berita Terpopuler
    Anang Hermansyah Melenggang ke Senayan 
    PNS Pemilik Rp 1,3 T Diduga Setor ke Perwira TNI
    KPK Tetapkan Hadi Poernomo sebagai Tersangka


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.