Rayen Pono, Caleg Muda PDIP yang Kaget dengan Aspirasi Konstituen

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nyong Rayendie Pono, caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Foto: Istimewa

    Nyong Rayendie Pono, caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjadi caleg dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Nyong Rayendie Pono, 35 tahun, mengaku tak pernah memiliki agenda untuk terjun ke dunia politik praktis. Kendati sudah kerap terlibat dalam pembuatan jingle atau lagu untuk PDIP, pria yang tersohor dengan nama Rayen Pono ini baru memutuskan bergabung pada tahun ini.

    Baca: Gaya Elegan Krisdayanti setelah Jadi Caleg

    "Enggak pernah punya agenda politik, tapi aku selalu punya kerinduan berkontribusi konkret untuk perubahan," kata Rayen kepada Tempo di kantornya di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Senin, 13 Agustus 2018.

    Rayen kini menjadi bakal calon anggota legislatif Dewan Perwakilan Rakyat dari PDIP. Dia akan maju dari kampung halamannya, daerah pemilihan (Dapil) II Nusa Tenggara Timur. Daerah pemilihan II itu meliputi Sumba, Sabu, Rote, Tanah Timur, dan Kupang.

    Seniman asal Sumba bersuku Sabu ini mengungkapkan ada dua hal yang membuatnya bulat hati masuk ke dunia politik. Selain ingin memberi sumbangsih nyata, Rayen tak menampik keputusannya itu didorong adanya kesempatan.

    Eks vokalis grup musik Pasto ini memang sudah lama kenal dan dekat dengan Ketua Bidang Ekonomi Kreatif Dewan Pengurus Pusat PDIP Prananda Prabowo. Prananda juga merupakan putra dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

    Dalam persiapan menuju pemilihan legislatif, Rayen telah turun ke dapil sejak sebulan lalu. Dia menemui mesin dan jaringan partai di daerah serta para konstituennya. Rayen mengatakan konstituennya lah yang paling menginspirasi dia untuk maju sebagai caleg. Ayah dua anak ini pun agak kaget dengan pesan-pesan yang dititipkan masyarakat yang dia temui.

    Baca: Ahmad Dhani Juru Kampanye Nasional, Ini yang Akan Dilakukannya

    "Yang bikin sedih, aspirasinya bukan yang muluk-muluk sih sebenarnya. Aku sebelumnya enggak punya ide karena selama ini aku tinggal di Jakarta," ujarnya.

    Masyarakat NTT, ujar Rayen, banyak mengeluhkan persoalan kekurangan air bersih, ketersediaan listrik, dan akses pendidikan. Dia juga menyinggung soal masih banyaknya anak-anak muda di daerah yang belum memiliki rasa percaya diri untuk berkarya.

    "Banyak anak-anak muda di sana butuh role model yang bikin mereka percaya diri dan percaya bahwa kita semua punya kesempatan yang sama," kata Rayen.

    Rayen menambahkan, selama ini banyak orang menginginkan terjadinya perubahan, tetapi enggan terlibat mengupayakan secara langsung. Menurut dia, hal itu sama saja dengan berkhianat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.