Elektabilitas Jokowi Turun, Pilpres Dua Putaran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua Umum PMI Jusuf Kalla di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, (3/5). Jokowi dan Jusuf Kalla bersilahturahim sebelum berangkat menuju kota tujuan masing-masing. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    Calon Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua Umum PMI Jusuf Kalla di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, (3/5). Jokowi dan Jusuf Kalla bersilahturahim sebelum berangkat menuju kota tujuan masing-masing. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemilihan umum presiden diprediksi terjadi dalam dua putaran. Hal ini disampaikan Saiful Mujani Research & Consulting setelah melakukan survei selama lima hari di seluruh provinsi Indonesia. Survei melibatkan 2015 responden pada 20-24 April 2014.

    Menurut hasil survei itu, pemilihan umum presiden pada 9 Juli nanti maksimal akan diikuti oleh empat pasangan calon presiden dan wakil presiden. Hasil survei itu menyebutkan calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Joko Widodo, lebih diunggulkan ketimbang calon presiden dari Partai Gerakan Indonesia Raya, Prabowo Subianto.

    "Tapi pemilu akan terjadi dua putaran, karena elektabilitas Prabowo menguat, sedangkan Jokowi cenderung turun. Dan, kalau menang, Jokowi tak sampai 50 persen," kata peneliti Saiful Mujani Research & Consulting, Djayadi Hanan, ketika dihubungi pada Senin, 5 Mei 2014.

    Survei itu juga membuat simulasi tingkat elektabilitas setiap pasangan presiden dan wakil presiden. Jika dipasangkan dengan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md., tingkat elektabilitas Jokowi 47,6 persen. Sedangkan jika berpasangan dengan mantan wakil presiden Jusuf Kalla, tingkat elektabilitas Jokowi mencapai 46,1 persen. Prabowo sendiri hanya akan mendapatkan modal elektabilitas 27-28 persen. Menurut survei itu, Prabowo disimulasikan berpasangan dengan sejumlah tokoh, termasuk Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa.

    Undang-Undang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden mensyaratkan pasangan calon terpilih dalam pemilu presiden adalah calon yang memperoleh suara lebih dari 50 persen dari jumlah suara sedikitnya 20 persen di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi Indonesia.

    Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Tjahyo Kumolo kepada Tempo mengaku optimistis Jokowi akan memenangkan pemilu presiden dalam satu putaran. "Kami sudah siapkan strategi," ujarnya. Dia enggan membeberkan strategi pemenangan, tapi salah satunya dengan mengerahkan seluruh kader PDI Perjuangan untuk memenangkan Jokowi.

    REZA ADITYA| ANTON A.


    Berita Terpopuler:
    Peresmian Rajawali Televisi Dihadiri SBY-JK  
    Abraham Samad: Serakah, Gaji Selangit Masih Korup  
    Jokowi Tunjuk Khofifah Jadi Jubir dalam Pilpres  
    Ingin Ubah Persepsi, B-Channel Ganti Nama Jadi RTV


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.