Pengamat Yakin Prabowo akan Oposisi, Ini Sebabnya

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto telah tiba di kediaman Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Jalan Teuku Umar Nomor 27, Menteng, Jakarta pada Rabu, 24 Juli 2019. Prabowo tiba mengenakan baju batik cokelat bercampur putih dengan celana hitam sekitar pukul 12.30 didampingi Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo dan Sekjen Gerindra Ahmad Muzani.

    Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto telah tiba di kediaman Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Jalan Teuku Umar Nomor 27, Menteng, Jakarta pada Rabu, 24 Juli 2019. Prabowo tiba mengenakan baju batik cokelat bercampur putih dengan celana hitam sekitar pukul 12.30 didampingi Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo dan Sekjen Gerindra Ahmad Muzani.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pakar politik Prof Dewi Fortuna Anwar meyakini Partai Gerindra akan tetap menjadi oposisi meski telah terjalin pertemuan antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi), kemudian Megawati Soekarnoputri. "Pak Prabowo akan tetap berada di oposisi, karena justru tidak dignified bagi Pak Prabowo jika bergabung dalam pemerintahan Jokowi," kata dia di Jakarta, Senin, 29/7.

    Akanhalnya adanya pertmuan dengan Jokowi dan Megawati, menurut Dewi, itu bagian dari silaturahmi. "Begitu selesai kontestasi, itu setiap pihak kembali merajut silaturahmi," kata dia. Pertemuan-pertemuan itu adalah suatu hal yang membuktikan silaturahmi berjalan baik dan itu bagian dari aturan main demokrasi. Jadi ia heran kalau pertemuan-pertemuan itu diartikan seolah-olah kelompok yang tadinya mendukung Prabowo akan bergabung dalam koalisi, termasuk Gerindra.

    Ia memperkirakan Gerindra akan tetap berada di oposisi, utamanya sebagai komandan di kubu oposisi untuk memastikan pemerintahan berjalan dengan prinsip demokrasi melalui check and balances. Diakui dia, perpolitikan di Indonesia selama ini memang agak berbeda dengan negara-negara demokrasi lainnya, terutama dinamika koalisi partai-partai yang sangat cair.

    "Ketika Pak SBY pada periode keduanya, banyak partai yang tadinya di luar bergabung dalam koalisi besar. Sehingga tidak heran jika banyak orang kini berspekulasi begitu," kata dia. Namun, Dewi mengingatkan bahwa silaturahmi politik itu baik dan penting dijaga, sementara kerja sama untuk membangun bangsa Indonesia penting juga adanya.

    Bagi pihak pemenang, kata dia, tidak ngasorake, atau merendahkan yang kalah. Sedangkan pihak yang kalah harus mengakui dan menerima kenyataan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.