Elite Politik Jangan Sampai Memanipulasi Suara  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ikrar Nusa Bhakti. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    Ikrar Nusa Bhakti. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Hitung cepat perolehan suara masing-masing kandidat dalam pemilu presiden oleh beberapa lembaga survei memberikan hasil yang beragam. Ada yang memenangkan Prabowo-Hatta, ada pula yang memenangkan Jokowi-Kalla.

    Perbedaan hasil hitung cepat dari lembaga survei ini mengharuskan rakyat mengawal dan memantau penghitungan suara dari tempat pemungutan suara, kelurahan/desa, kecamatan, sampai pusat.

    Hasil hitung cepat ini tidak bisa menjadi acuan untuk melihat pemenang pemilihan presiden 2014. Karena itu, guru besar riset di Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa Bhakti, mengimbau agar semua orang ikut memantau penghitungan suara. (Baca: Beda Hitungan, Lembaga Survei Diminta Buka-bukaan)

    "Rakyat telah memberikan suaranya secara sukacita. Suara rakyat harus dihormati. Jangan memanipulasi suara rakyat," kata Ikrar kepada Tempo, Kamis, 10 Juli 2014. Menurut Ikrar, hasil pemilu presiden akan menentukan masa depan demokrasi Indonesia. "Apakah kita akan setback atau melangkah ke jalur demokrasi," ujar Ikrar.

    Ikrar berharap, hingga hasil penghitungan resmi diumumkan, rakyat tidak diadu domba. "Elite politik jangan sampai melakukan pembodohan politik dengan manipulasi data survei maupun suara real count."

    RINA ATMASARI

    Berita Terpopuler:
    Jokowi-JK Menang, Munas Golkar Lebih Dinamis 
    Aburizal Klaim Koalisi Permanen Positif
    PKB Jawa Tengah: Jokowi Menang di Semua Basis NU
    Ahok Sayangkan Dua Kandidat Klaim Kemenangan  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anwar Usman dan 8 Hakim Sidang MK dalam Gugatan Kubu Prabowo

    Mahkamah Konstitusi telah menunjuk Anwar Usman beserta 8 orang hakim untuk menangani sengketa pemilihan presiden 2019.