Hatta Rajasa: Kalah-Menang Itu Biasa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hatta Rajasa. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Hatta Rajasa. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjelang pengumuman hasil rekapitulasi nasional oleh Komisi Pemilihan Umum yang digelar besok, calon wakil presiden nomor urut 1, Hatta Rajasa, mengakui bahwa ketegangan dalam pilpres kali ini sangat tajam. Karena itu, ia mewanti-wanti jangan sampai ada pengerahan massa.

    "Sebaiknya Polri melarang pengerahan massa. Ini demi kebaikan, persatuan, dan kerukunan. Jangan sampai ada kerusuhan tanggal 22 Juli," tutur Ketua Umum Partai Amanat Nasional ini kepada Tempo di rumahnya, Jumat pekan lalu.

    Hatta menegaskan bahwa kekalahan atau kemenangan dalam pemilihan presiden ini adalah hal biasa. Karena itu, ia berpendapat, siapa pun presiden yang terpilih harus didukung. "Saya akan sampaikan itu ke pendukung. Saya tak mau melibatkan massa," ujarnya. (Baca: Prabowo Imbau KPU Hentikan Penghitungan Suara)

    Besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini menilai pemilu presiden 2014 cukup berat. Sebab, pemilihan presiden kali ini minim gagasan yang brilian, yang banyak justru kampanye negatif. Ketegangan makin ditambah oleh hasil hitung cepat yang berbeda. "Quick count itu ilmiah, tapi masyarakat belum siap dan tak semua paham. Ini yang bisa menyulut perpecahan," tutur Hatta. (Baca: Ini Nazar Pesohor jika Jokowi-JK Menang)

    Sebelumnya, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Sutarman telah menginstruksikan kepada seluruh kepala kepolsian daerah di seluruh Indonesia untuk menggelar acara deklarasi damai menjelang pengumuman hasil pemilihan presiden dan wakil presiden oleh Komisi Pemilihan Umum pada 22 Juli 2014. Hal itu disampaikan Sutarman setelah menghadiri acara deklarasi damai di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Minggu, 20 Juli 2014. Deklarasi digagas oleh relawan dari kedua kubu, baik Prabowo Subianto-Hatta Rajasa maupun Joko Widodo-Jusuf Kalla.

    "Kami apresiasi langkah damai para relawan kedua kubu relawan. Dan kami tertarik menggelar cara serupa untuk mendinginkan kondisi di seluruh Indonesia," kata Sutarman.

    Saat ini Sutarman mengaku mulai khawatir dengan perbedaan sikap politik di masyarakat yang begitu kentara gara-gara pemilu presiden 2014. Beda pilihan bisa membuat satu keluarga beradu argumen hingga bertengkar. "Ini kan pesta demokrasi, kok malah jadi sengit seperti ini. Karena itu, perlu juga dibuat deklarasi damai di daerah agar masyarakat tenang kembali," ujarnya. 

    BAGJA HIDAYAT | ANTON SEPTIAN | INDRA WIJAYA


    Berita Lain:
    Mahfud Md.: Dua Capres Sama-sama Curang
    SBY Klaim Mampu Tengahi Perselisihan di Pilpres
    Kalah Telak, Saksi Prabowo Tolak Tanda Tangan
    Luhut Berharap Tokoh Muda Pimpin Golkar
    Komite Buruh Tolak Rencana Pengawalan Suara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gerhana Bulan Parsial Umbra Terakhir 2019

    Pada Rabu dini hari, 17 Juli 2019, bakal terjadi gerhana bulan sebagian. Peristiwa itu akan menjadi gerhana umbra jadi yang terakhir di tahun 2019.