Ini Alasan Popularitas Jokowi Rebound

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon presiden nomer urut dua Joko Widodo bersama istri Iriana berjalan memasuki TPS untuk melakukan pemilihan presiden di TPS 18, Suropati, Jakarta (9/7). Jokowi dan Iriana tercatat dalam daftar pemilih tetap (DPT) nomor 321 dan 322.. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Calon presiden nomer urut dua Joko Widodo bersama istri Iriana berjalan memasuki TPS untuk melakukan pemilihan presiden di TPS 18, Suropati, Jakarta (9/7). Jokowi dan Iriana tercatat dalam daftar pemilih tetap (DPT) nomor 321 dan 322.. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.COJakarta - Banyak orang bertanya-tanya, mengapa popularitas calon presiden Joko Widodo dan calon wakil presiden Jusuf Kalla bisa rebound atau menanjak lagi. Menurut peneliti Lingkaran Survei Indonesia, Fitri Hari, "kebangkitan kembali" elektabilitas Jokowi-Kalla disebabkan oleh penguatan dukungan dari segmen pemilih wong cilik karena efek kampanye dari pintu ke pintu. 

    Sebelum pemilihan, LSI memperkirakan Jokowi-Kalla yang masih unggul, meraih 47,8 persen, kembali memperlebar jarak dengan Prabowo-Hatta, yang mendapat 44,2 persen. Hasil itu klop dengan hasil quick count yang digelar seusai pencoblosan 9 Juli 2014. "Quick count LSI pilpres 2014, data masuk 96,60 persen, Jokowi-JK 53,36 persen, Prabowo Hatta 46,64 persen," kata Denny J.A., pendiri LSI, dalam akun Twitter-nya, Rabu, 9 Juli 2014. (Baca juga: Survei LSI, IPI, SMRC Mencatat Jokowi Menang 53 Persen, Prabowo 47 Persen)

    "Materi door to door yang berisikan janji program 100 hari pemerintahan Jokowi-Kalla, Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sehat, sangat menyentuh segmen pemilih wong cilik," kata Fitri.

    Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menilai pasangan calon presiden dan wakil presiden Jokowi-Kalla mampu memanfaatkan momentum akhir massa kampanye dengan baik. Dua faktor yang paling berpengaruh adalah penyelenggaraan konser Salam 2 Jari di Gelora Bung Karno dan penampilan mereka saat debat sesi terakhir. "Dua peristiwa itu ikut mendongkrak elektabilitas Jokowi," ujar Direktur Riset SMRC, Djayadi Hanan. (Baca juga: Megawati Menangis Jokowi-Jk Menang Jadi Presiden).

    Menurut Djayadi, Prabowo-Hatta nyaris tidak memperlihatkan manuver yang berarti pada akhir masa kampanye. "Ini menandakan dua hal: momentum peningkatan elektabilitas Prabowo sudah berhenti dan elektabilitas Jokowi rebound," katanya.

    Hasil sigi lembaga survei Charta Politica sebelum pemilihan juga menempatkan Joko Widodo-Jusuf Kalla di atas Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. "Jika responden yang berganti pilihan dan belum menentukan terdistribusi secara normal, Jokowi-Kalla bisa memperlebar jarak kemenangan," kata Direktur Eksekutif Charta Politica, Yunarto Wijaya, di Jakarta, Rabu, 9 Juli 2014.

    Hasil sigi Charta Politica menunjukkan elektabilitas Jokowi-Kalla mencapai 49,2 persen, sedangkan Prabowo-Hatta 45,1 persen. Sisanya, 5,7 persen, belum menentukan pilihan. Dalam survei itu, responden menganggap Jokowi sebagai orang yang sederhana dan gemar blusukan. Adapun Prabowo dinilai sebagai sosok yang tegas dan berwibawa.

    Yunarto Wijaya mengatakan 83,6 persen sudah yakin memilih pasangan Jokowi-Kalla, dan 12,6 persen masih mungkin berubah. Di kubu Prabowo-Hatta, 76,6 persen sudah mantap menentukan pilihan, dan 20,4 persen bisa berubah. 

    Jokowi-Kalla juga masih unggul berdasarkan sigi Lingkaran Survei Indonesia. Jokowi-Kalla, yang meraih 47,8 persen, kembali memperlebar jarak dengan Prabowo-Hatta, yang mendapat 44,2 persen. Peneliti LSI, Fitri Hari, mengatakan "kebangkitan kembali" elektabilitas Jokowi-Kalla disebabkan oleh penguatan dukungan dari segmen pemilih wong cilik karena efek kampanye pintu ke pintu.

    Anggota tim pemenangan Prabowo-Hatta, Fadel Muhammad, sebelum pemungutan suara, sempat mengutarakan optimistis bisa memenangi pemilihan umum ini. Survei internal koalisi, kata Fadel Selasa, 8 Juli 2014, menyatakan Prabowo-Hatta mendapat 46 persen, sedangkan Jokowi-Kalla 42 persen. "Tapi undecided voters masih besar, 15 persen suara," kata Fadel. 

    Fadel mengatakan timnya akan terus bekerja keras menjaga kesolidan partai pendukung. Politikus Golongan Karya ini mencontohkan, partai beringin terpecah karena mantan ketua umumnya, Jusuf Kalla, diajukan sebagai calon wakil presiden mendampingi Jokowi. Jasa-jasa Kalla, kata dia, masih dianggap oleh kader Golkar. "Sekuat tenaga mencegah perpecahan dengan cara yang lari ke luar itu diberhentikan," ujarnya.

    Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon sehari sebelum pemilihan mengklaim elektabilitas Prabowo-Hatta sudah meninggalkan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Menurut Fadli, kemenangan Prabowo-Hatta sudah tersebar di sejumlah wilayah. "Kami sudah memimpin di kisaran 10 persen," kata Fadli, Selasa, 8 Juli 2014.

    SUNDARI | SINGGIH SOARES | RIKY FERDIANTO | IRA GUSLINA SUFA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H