Profauna: Pilih Capres Peduli Lingkungan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Masyarakat asli adat Dayak Kayaan dan Dayak Taman Kapuas Hulu saat aksi demo mendesak pemerintah untuk menghentikan penghancuran hutan alam di Kalimantan. TEMPO/Subekti

    Masyarakat asli adat Dayak Kayaan dan Dayak Taman Kapuas Hulu saat aksi demo mendesak pemerintah untuk menghentikan penghancuran hutan alam di Kalimantan. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Malang - LSM konservasi satwa dan hutan, Protection of Forest and Fauna (Profauna), mengajak masyarakat memilih calon presiden yang peduli terhadap lingkungan. Masyarakat diimbau mengenal visi dan misi kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden.

    "Dukung dan pilih calon presiden yang peduli terhadap kelestarian hutan dan lingkungan," kata Ketua Profauna, Rosek Nursahid, Rabu, 11 Juni 2014.

    Sebagai organisasi peduli lingkungan, Profauna tengah menjalin komunikasi dengan tim sukses kedua pasangan calon presiden untuk mengetahui komitmen mereka terhadap lingkungan. Namun, sejauh ini ia masih mempelajari visi dan misi kedua pasangan calon presiden.

    "Profauna tak boleh berpolitik, kita tak akan dukung-mendukung calon presiden tertentu. Silakan pilih sesuai hati nurani," katanya.

    Pada pemilihan presiden sebelumnya, kata Rosek, isu lingkungan tak mendapat perhatian calon presiden. Para calon presiden lebih mengutakan isu ekonomi, reformasi birokrasi, perlindungan sosial, pertahanan, dan keamanan atau isu lainnya.

    Pada saat ini, isu lingkungan menjadi sangat penting karena kondisi hutan lindung dalam kondisi kritis. Total hutan di Indonesia tersisa 120 juta hektare, sedangkan laju deforestasi mencapai 300 ribu hektare sampai 3,8 juta hektare per tahun. Sedangkan deforestasi terjadi akibat lemahnya regulasi untuk mempertahankan hutan. (Baca: ProFauna Dukung Ide Hari Libur Satwa di KBS)

    Deforestasi terjadi akibat izin hak pengusahaan hutan (HPH). Usaha industri ini bahkan mengabaikan 30 persen hutan konservasi. Hutan kritis, sedangan HPH tak melakukan usaha untuk mengembalikan hutan. Hutan semakin rusak akibat izin pertambangan, hutan tanaman industri, kepala sawit, dan industri pertanian.

    Profauna berharap presiden terpilih meninjau izin pertambangan, HPH, perkebunan sawit, hutan tanaman industri dan pembukaan lahan untuk industri pertanian. Ketegasan presiden, katanya, dibutuhkan untuk menyelamatkan hutan. Sebab hutan bukan hanya berupa pepohonan, tetapi memiliki fungsi ekologis dan sosial. Jika habitat terdesak, maka akan mengancam aneka jenis satwa endemik di Indonesia. (Baca: ProFauna Ubah Logo, Perlindungan Hutan Digenjot)

    EKO WIDIANTO

    Terpopuler:
    Anak Tukang Becak Ini Terima Beasiswa ke Inggris

    Anak Tukang Becak ini Lulus dengan IPK 3,96

    Lawan Semen Padang U-21, Timnas U-19 Rotasi Pemain

    Fasilitas Kaum Cacat Diduga Dikorupsi, KPK Kaget


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.