Untung-Rugi Hary Tanoe Dukung Prabowo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Wakil Presiden dari Partai Hanura Hary Tanoesoedibjo memegang tongkat yang menandai pembukaan    acara dalam kampanye terbuka di Lapangan Sanca, Kampung Sindangkarsa, Tapos, Depok, Jawa Barat (18/3). Dalam kampanye yang dihadiri ribuan warga dan simpatisan, HT berjanji akan membawa Indonesia menjadi negara maju melalui pendidikan dan kesehatan gratis, HT juga menyatakan keseriusannya dalam penanganan korupsi. (TEMPO/Ilham Tirta)

    Calon Wakil Presiden dari Partai Hanura Hary Tanoesoedibjo memegang tongkat yang menandai pembukaan acara dalam kampanye terbuka di Lapangan Sanca, Kampung Sindangkarsa, Tapos, Depok, Jawa Barat (18/3). Dalam kampanye yang dihadiri ribuan warga dan simpatisan, HT berjanji akan membawa Indonesia menjadi negara maju melalui pendidikan dan kesehatan gratis, HT juga menyatakan keseriusannya dalam penanganan korupsi. (TEMPO/Ilham Tirta)

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Riset Saiful Mujani Research and Consulting Djayadi Hanan mengatakan ada sejumlah keuntungan dan kerugian bos MNC Group, Hary Tanoesoedibjo, mendukung Prabowo Subianto, calon presiden yang diusung koalisi pimpinan Partai Gerindra.

    Menurut Djayadi, sedikitnya ada tiga keuntungan buat Hary Tanoe ketika mendukung Prabowo. Keuntungan pertama, kata Djayadi, adalah Hary Tanoe lolos dari cap sebagai orang yang kerap gagal dalam berpolitik."Dalam pemilu ini, ia sudah dua kali ganti partai karena masalah internal. Kalau tak dukung Prabowo, ia mau tak mau harus keluar sementara dari kancah politik," ujar Djayadi ketika dihubungi, Jumat, 23 Mei 2014.

    Keuntungan kedua, kata dia, posisi Hary Tanoe sebagai raja media dan uangnya yang melimpah tentu membuat posisi tawarnya cukup tinggi. "Mungkin saja kalau Prabowo berhasil menang, Hary Tanoe dapat kursi menteri atau pejabat lainnya," ujar Djayadi.

    Sedangkan keuntungan ketiga, dengan mendukung Prabowo, Djayadi mengatakan, Hary Tanoe tetap bisa ikut berlaga dalam pertarungan politik tahun ini demi menjaga rekam jejaknya pada masa depan. Bukan tak mungkin beberapa tahun mendatang, kata Djayadi, Hary Tanoe memiliki kendaraan politik sendiri. "Paling tidak tahun ini ia sudah masuk political circle," ujarnya.

    Adapun kerugiannya, kata Djayadi, dia harus satu kubu dengan rival politiknya ketika bergiat di Partai Hanura. Rival politik itu, Djayadi menyebutkan, adalah Fuad Bawazier, yang belakangan mundur dari Hanura karena berseberangan dengan sikap Partai Hanura yang mendukung calon presiden PDI Perjuangan, Joko Widodo.

    Hary Tanoesoedibjo juga sudah mundur dari Partai Hanura lantaran kurang mendapatkan porsi lebih dalam mengambil sebuah keputusan di Hanura. Kendati keluar dari Hanura, Hary Tanoe menegaskan, dirinya tidak bergabung dengan Gerindra. Pria asal Jawa Timur itu hanya memberikan dukungan politik kepada koalisi Merah-Putih. "Bukan berarti pindah parpol terus ke Gerindra. Saya ini menggunakan hak," ucap Hary Tanoe.

    Hary Tanoe masuk Hanura setelah keluar dari Partai Nasional Demokrat. Di Hanura, dia langsung mendapat jabatan strategis sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Hanura. Bahkan langsung didapuk sebagai calon wakil presiden mendampingi Wiranto pada Juli tahun lalu. (Baca: Dukung Prabowo, Hary Tanoe Siapkan Dana Kampanye)

    TIKA PRIMANDARI

    Berita Terpopuler
    Dilaporkan ke Polisi, Ahok Tantang Balik Udar 

    Malaysia Hentikan Pembangunan Mercusuar di Tanjung Datu 

    Tekan Inflasi Jakarta, Jokowi Dipuji Mendagri


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.