Menteri Tifatul Cuti di Akhir Pekan untuk Kampanye  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkominfo, Tifatul Sembiring. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Menkominfo, Tifatul Sembiring. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring mengklaim telah mengajukan cuti selama enam hari sepanjang masa kampanye besar, 16 Maret hingga 5 April 2014 nanti. Menurut dia, cuti diajukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk tak bekerja tiap akhir pekan. "Tiga pekan. Satu pekannya dua hari," kata Tifatul di Kantor Presiden, Senin, 10 Maret 2014.

    Dia mengklaim selama lima tahun menjabat sebagai menteri tak pernah mengajukan cuti. Menurut dia, banyak hari libur yang kerap digunakan untuk bekerja sebagai menteri, termasuk rapat bersama Presiden.

    Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu menyatakan menteri lain dari partainya juga akan mengajukan cuti ke SBY. Ia sendiri hanya mengetahui Menteri Pertanian Suswono yang sudah mengajukan cuti, sedangkan Menteri Sosial Salim Segaf belum diketahui.

    Dalam kampanye besar sendiri, Tifatul didaftarkan sebagai salah satu juru kampanye PKS di Sumatera dan Jawa. Menurut dia, penetapan tersebut semata pemenuhan persyaratan di Komisi Pemilihan Umum perihal daftar juru kampanye.

    Akan tetapi, dalam pelaksanaannya nanti, Tifatul mengklaim tak akan berkampanye di seluruh tempat tersebut. Ia memilih untuk berkampanye secara efektif karena terbatas jumlah hari, waktu, dan fasilitas perjalanan. "Kampanye cuma dua hari di akhir pekan."

    FRANSISCO ROSARIANS

    Topik terhangat:

    Ade Sara | Malaysia Airlines | Kasus Century | Jokowi | Anas Urbaningrum

    Terpopuler
    Curhat SBY: Koalisi Kadang Makan Hati
    Terungkap, 'Penumpang Gelap' Malaysia Airlines
    Polisi Belum Minta Keterangan Orang Tua Ade Sara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.