Elektabilitas Merosot, Demokrat Salahkan Televisi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • lustrasi Bendera Partai Demokrat. TEMPO/Kink Kusuma Rein

    lustrasi Bendera Partai Demokrat. TEMPO/Kink Kusuma Rein

    TEMPO.CO, Jakarta -Elektabilitas Partai Demokrat tak kunjung mengalami kenaikan setelah partai itu dihantam isu dugaan kasus korupsi yang menghantam sejumlah kadernya. Dalam survei Cyrus Network pada November 2013, elektabilitas Partai Demokrat berada di angka 6,7 persen.

    Tapi, pengurus Partai Demokrat punya dalih lain ihwal terus melorotnya elektabilitas partai itu."Saya kira apa yang disiarkan media massa masih dipercaya publik," kata Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Max Sopacua saat dihubungi, Ahad, 15 Desember 2013. (Konvensi Capres Demokrat Sepi)

    Max tak membantah hasil survei yang menempatkan partainya dibawah Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. "Di setiap provinsi, hasil survei kami juga tak berbeda jauh dengan yang dirilis lembaga survei."

    Dia mengatakan, salah satu penyebab merosotnya elektabilitas partainya adalah pemberitaan buruk mengenai kasus korupsi. Max mengaku heran karena kasus itu sudah lama terjadi dan terus menerus ditayangkan oleh media tertentu. Dia percaya, pemberitaan mengenai partainya akan semakin intens jelang Pemilu 2014. "Seolah-olah tiada hari tanpa berita korupsi Demokrat."

    Hari ini survei Cyrus Network menunjukkan elektabilitas Demokrat mengalami tren penurunan. Pada survei Agustus 2013 misalnya, elektabilitas partai pemerintah ini masih berada di angka 10,3 persen. Namun angka ini justru turun menjadi 6,7 persen pada survei akhir November 2013. Angka Demokrat sama dengan elektabilitas yang diraih Partai Hanura.

    Max meminta penurunan ini karena partainya tak memiliki televisi. Menurut anggota Komisi Pertahanan DPR ini, televisi seharusnya memberikan porsi pemberitaan yang berimbang kepada partai politik. Dia memilih menginstruksikan kadernya bekerja dengan lebih tekun di lapangan. Menurut dia, mereka yang menghajar Demokrat setiap hari tidak akan otomatis menjadi pemenang pemilu. "Kami lebih memilih membangun sistem," kata dia. (KPI Ragu Televisi Sebabkan Elektabilitas Turun)

    WAYAN AGUS PURNOMO

    Berita populer:
    Ahok Usulkan Hapus Subsidi BBM di Jakarta
    Begini Brutalnya Pelonco ITN Versi Warga Sitiarjo
    Saksi Pelonco Maut: Fikri Dibanting dan Ditendang
    Pengelola Gua Cina Sempat Tolak Perpeloncoan ITN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.