Indikator: Pemilih NU Penentu Kemenangan Jokowi - Ma'ruf

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi melaporkan beberapa akun yang menuding dirinya menerima uang terkait hasil quick count lembaganya ke Bareskrim Polri, Jakarta Selatan pada Senin, 22 April 2019. TEMPO/Andita Rahma

    Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi melaporkan beberapa akun yang menuding dirinya menerima uang terkait hasil quick count lembaganya ke Bareskrim Polri, Jakarta Selatan pada Senin, 22 April 2019. TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyatakan bahwa pemilih basis Nahdlatul Ulama (NU) menjadi penentu kemenangan pasangan capres-cawapres nomor urut 01, Jokowi - Ma'ruf Amin, pada Pemilu 2019. "Suka atau tidak suka itulah yang terjadi," kata Burhanuddin Muhtadi pada diskusi Populisme dalam Demokrasi Elektoral 2019 di Jakarta, Rabu, 29 Mei 2019.

    Basis massa NU tersebar di sebagian wilayah Indonesia, yakni daerah-daerah yang penduduknya masyoritas muslim, terutama di Pulau Jawa.
    Karena itu pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin meraih kemenangan telak di Jawa Tengah dan Jawa Timur. "Apalagi kedua provinsi tersebut adalah daerah padat penduduk," ujar dia.

    Baca juga: Rais Aam PBNU Sebut Ma'ruf Amin Pembawa Hoki

    Kemenangan Jokowi - Ma'ruf Amin, di dua provinsi 'gemuk' Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjadi penentu kemenangannya pada Pemilu Presiden 2019. Di Jawa Barat, provinsi yang berpenduduk terpadat di Indonesia,  pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin, meskipun belum menang, tapi berhasil memperkecil kekalahan dibandingkan dengan Pemilu Presiden 2014.

    Burhan juga menjelaskan berdasarkan data exit poll yang dilakukan Indikator Politik Indonesia pada Pemilu 2019, menyimpulkan sebanyak 56 persen warga NU memilih Jokowi - Ma'ruf Amin. "Meningkatnya soliditas warga NU dalam memilih Jokowi, karena capres petahana ini menggandeng Rais Am PBNU, KH Ma'ruf Amin, sebagai cawapres."

    Pada Pemilu Presiden 2019 ini, kata Burhan, sesungguhnya kedua pasangan capres-cawapres menyuarakan isu populisme agama dan aliran.
    Isu itu semakin menyuburkan politik identitas sepanjang kampanye selama tujuh bulan, yang membuat masyarakat yang mayoritas muslim menjadi terpolarisasi. "Hal ini berdampak para pemilih kedua pasangan capres-cawapres semain mengerucut dan mengkristal."

    Baca juga: Disebut Terima Duit KONI Buat Muktamar, PBNU: Tak Masuk Akal

    Menurut Burhan, mayoritas pemilih NU memilih Jokowi - Ma'ruf Amin, sedangkan mayoritas pemilih Muhammadiyah memilih Prabowo - Sandiaga. "Keuntungan bagi Jokowi, karena warga NU adalah mayoritas, yakni sekitar 60 persen dari jumlah penduduk muslim Indonesia."

    Hal lain yang menjadi penentu kemenangan Jokowi - Ma'ruf Amin, menurut dia, adalah pemilih nonmuslim di Bali, NTT, serta kawasan timur Indonesia lainnya.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.