Kronologi Detail Kerusuhan Aksi 22 Mei versi Kapolri

Reporter:
Editor:

Elik Susanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kiri) berbincang bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kedua kiri) dan Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryanto (tengah) saat meninjau gelar pasukan pengamanan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 di area Bogor Nirwana Residence, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu 10 April 2019. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

    Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kiri) berbincang bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kedua kiri) dan Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryanto (tengah) saat meninjau gelar pasukan pengamanan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 di area Bogor Nirwana Residence, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu 10 April 2019. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan kronologi kerusuhan dalam aksi 22 Mei yang menolak hasil Pemilu 2019. Aksi tersebut bermula berlangsung di depan Kantor Bawaslu Jalan MH Thamrin, Jakarta yang berujung ricuh.

    Baca Juga: Pembakaran di Asrama Brimob, 11 Mobil Hangus

    Menurut Tito, seusai unjuk rasa pada Selasa siang, 21 Mei 2019, peserta aksi melaksanakan salat magrib berjamaah dan buka puasa bersama di depan Kantor Bawaslu. Sekitar pukul 18.00 WIB, suasana berbuka puasa dan dilanjutkan salat maqrib berjalan tertib.

    "Ada permintaan dari peserta unjuk rasa untuk melanjutkan salat Isya dan Tarawih. Kami penuhi dan perbolehkan," kata Tito di Kantor Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan di Jakarta, Rabu, 22 Mei 2019.

    Seorang pria terlihat di tengah kerusuhan 22 Mei di Jakarta, Rabu, 22 Mei 2019. Polisi menyebut FPI membantu mengidentifikasi orang yang diduga menjadi perusuh. REUTERS/Willy Kurniawan

    Tito mengatakan, setelah salat Tarawih sekitar pukul 21.30 petugas bernegosiasi dengan massa untuk membubarkan diri dan dipatuhi oleh para demonstran. Kemudian sekitar pukul 23.00, dari arah Tanah Abang, muncul sekelompok pemuda berjumlah sekitar 300-400 orang dan melempari polisi yang sedang berjaga di depan Kantor Bawaslu. Selain menggunakan batu, mereka juga melemparkan petasan dan bom molotov.

    Polisi berupaya mendorong mereka mundur ke kawasan Tanah Abang dan Jalan Kebun Kacang. Caranya dengan menyemprotkan air dengan mobil water cannon ke arah massa. "Langkah petugas mendorong mereka untuk mundur," kata Tito.

    Pada Rabu dinihari pukul 03.00, di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, tiba-tiba ada sekelompok pemuda menyerang Asrama Brimob dan membakar kendaraan pribadi yang diparkir.  "Sehingga terjadi bentrok. Personel Sabhara back up, massa di Petamburan dan di depan Bawaslu dapat dibubarkan".

    Sejumlah peserta aksi Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat melakukan penyerangan kepada petugas Kepolisian dalam Aksi 22 Mei di depan gedung Bawaslu, Jakarta, 22 Mei 2019. Massa terus melempari polisi dengan batu serta bom molotov. Mereka juga mengarahkan kembang api dan petasan ke blokade polisi. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Namun, kata Tito, massa juga berusaha menyerang Asrama Polisi Cideng, Jakarta Pusat. Massa lainnya melakukan aksi membakar ban bekas di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. "Massa sekitar 100 orang hingga 150 orang," katanya sembari menambahkan bahwa pelaku kerusuhan dan perusakan di sejumlah lokasi di Jakarta bukanlah massa yang berdemo di depan Gedung Bawaslu.

    Kerusuhan di Asrama Brimob berakibat 11 mobil rusak dibakar dan 14 mobil lainnya terbakar. Sejumlah orang juga dilaporkan tewas dalam kejadian itu. "Kami masih menyelidiki penyebabnya," kata Tito. Kepolisian mengamankan sebanyak 69 orang dalam peristiwa tersebut.

    Menkopolhukam Wiranto menambahkan, orang yang ditangkap dalam aksi 22 Mei adalah preman bayaran yang mayoritas memiliki tato di tubuhnya. Wiranto berujar sudah tahu siapa dalang di balik keributan ini. "Hasil investigasi kami sudah mengetahui siapa dalangnya," kata Wiranto.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kombatan ISIS asal Indonesia yang Terdeteksi di Suriah dan Irak

    Pada 2017, BNPT memperkirakan seribu lebih WNI tergabung dengan ISIS. Kini, kombatan asal Indonesia itu terdeteksi terserak di Irak dan Suriah.