Koalisi Jokowi Satu Suara Kursi Ketua DPR untuk Puan Maharani

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani. TEMPO/Subekti.

    Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Partai koalisi pendukung Jokowi satu suara menyatakan setuju jika Puan Maharani yang akan mengisi kursi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) periode 2019-2024.

    Baca juga: PDIP Buka Kemungkinan Ketua DPR Dijabat Perempuan

    Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menyebut, Puan sangat cocok untuk posisi tersebut. "Cocok sekali. Mbak Puan sangat layak jadi ketua DPR dan mungkin akan membuka sejarah perempuan pertama yang menjadi Ketua DPR RI dalam sejarah," ujar pria yang akrab disapa Cak Imin itu di Kompleks DPR, kemarin.

    Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani mengatakan, sesuai dengan UU MD3 yang berlaku saat ini, maka partai yang paling banyak memperoleh kursi DPR RI berhak mendapatkan kedudukan Ketua DPR. Sejauh ini, PDIP menempati posisi nomor wahid.

    "Nah, maka diperkirakan tentu Ketua DPR RI adalah jatah PDIP. Siapa pun yang ditunjuk oleh PDIP, termasuk jika itu Mbak Puan, maka PPP akan menghormati dan mendukungnya," ujar anggota Komisi III DPR RI ini saat dihubungi Tempo, Senin malam, 13 Mei 2019.

    Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily juga berpendapat serupa dengan Arsul. "PDIP dipastikan memiliki kursi terbanyak untuk Pemilu 2019 ini. Jika PDIP menempatkan Mbak Puan Maharani menjadi Ketua DPR RI tentu itu kebijakan internal PDIP dan kami mendukungnya," ujar Ace saat dihubungi Tempo secara terpisah.

    Baca juga: NasDem Dukung Jika PDIP Tunjuk Puan Maharani Jadi Ketua DPR

    Menurut Ace, Puan memiliki kapasitas yang mumpuni karena pernah menjadi anggota DPR RI dan Menko PMK dalam Pemerintahan Jokowi periode pertama. "Saya tidak meragukan kapasitas Mbak Puan," ujar dia.

    Partai Nasdem pun demikian. Sekretaris Jenderal Partai NasDem Johny G. Plate menilai masyarakat Indonesia akan menyambut baik Ketua DPR perempuan pertama dalam sejarah. "Indonesia tentu senang mempunyai presiden perempuan, Ibu Mega (Megawati Soekarnoputri), nanti mempunyai juga ketua DPR perempuan, kalau bisa juga ketua MPR perempuan," kata Johny di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 13 Mei 2019.

    Sinyal kemungkinan Ketua DPR dijabat perempuan awalnya muncul dari Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto. Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Ahmad Basarah kemudian mengakui bahwa Puan Maharani, adalah kader yang paling berpeluang menjadi Ketua DPR RI.

    Basarah menyebut, Puan memiliki kapasitas menjadi Ketua DPR RI karena berbagai pengalamannya di dunia politik. Selain berpengalaman sebagai Menko PMK RI 2014-2019, Puan juga pernah menjabat Ketua Fraksi PDIP 2009-2014 dan sudah tiga periode menjadi pengurus DPP PDIP.

    "Puan juga memiliki legitimasi yang kuat untuk duduk sebagai Ketua DPR RI karena perolehan suaranya dalam pileg 2019 ini memecahkan rekor perolehan tertinggi yaitu di atas 420 ribu suara," ujar Basarah saat dihubungi wartawan pada Senin malam, 13 Mei 2019.

    Pergaulan dan interaksi politik Puan Maharani dengan berbagai kalangan sosial politik, ujar Basarah, juga sangat luas dan baik. Putri dari Megawati Soekarnoputri itu juga disebut sebagai kader partai yang paling dipercaya untuk urusan-urusan publik saat ini.

    Baca juga: PDIP: Puan Maharani Memang Paling Berpeluang Jadi Ketua DPR RI

    Berdasarkan UU MD3 yang berlaku saat ini, diatur dalam Pasal 427D bahwa susunan dan mekanisme penetapan pimpinan DPR setelah hasil berdasarkan urutan perolehan kursi terbanyak di DPR. Ketua DPR ialah anggota DPR yang berasal dari partai politik yang memperoleh kursi terbanyak pertama di DPR.

    Sementara wakilnya, ialah anggota DPR yang berasal dari partai politik yang memperoleh kursi terbanyak kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Sejauh ini, PDIP memang menempati posisi teratas sebagai partai dengan suara terbanyak di pemilu 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kombatan ISIS asal Indonesia yang Terdeteksi di Suriah dan Irak

    Pada 2017, BNPT memperkirakan seribu lebih WNI tergabung dengan ISIS. Kini, kombatan asal Indonesia itu terdeteksi terserak di Irak dan Suriah.