Soal Peluang Demokrat ke Kubu Jokowi, PDIP: Megawati Tidak Dendam

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri selesai mencoblos di bilik suara bersama kedua anaknya, Prananda Prabowo dan Puan Maharani di TPS 62 Kebagusan. Dewi Nurita/TEMPO

    Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri selesai mencoblos di bilik suara bersama kedua anaknya, Prananda Prabowo dan Puan Maharani di TPS 62 Kebagusan. Dewi Nurita/TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Bambang Wuryanto mengatakan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tak menyimpan dendam terhadap Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Bambang menyebut Megawati juga tak mewariskan dendam.

    "Buktinya, Mbak Puan (Puan Maharani, putri Megawati) membesuk Ibu Ani (Ani Yudhoyono, istri SBY) di Singapura," kata Bambang dikutip dari Majalah Tempo edisi Senin, 13 Mei 2019.

    Baca: Sikap Koalisi Jokowi Terbelah Soal Peluang Demokrat - PAN Gabung

    Hal ini disampaikan Bambang menanggapi kemungkinan Demokrat ke koalisi calon presiden inkumben Joko Widodo. Sejauh ini, sikap koalisi Jokowi terbelah mengenai kemungkinan bergabungnya sejumlah partai yang sebelumnya menjadi oposisi di pemilihan presiden 2019.

    Tiga pengurus Partai Demokrat mengatakan SBY sebenarnya ingin bergabung dengan koalisi Jokowi. Namun masih ada "luka lama" yang mengganjal, yakni hubungan dengan Megawati. Kedua mantan presiden itu sangat jarang bertemu setelah pemilihan presiden 2004 yang dimenangi SBY.

    Menurut Bambang, Megawati tak mempersoalkan jika Demokrat masuk koalisi. "Itu terserah presiden."

    Ketua Bidang Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengatakan partainya sudah mulai membahas opsi-opsi yang akan diambil seusai pemilihan presiden 2019. Ia menolak menyebutkan opsi-opsi itu namun mengatakan pembahasan sudah berlangsung di level pengambil kebijakan partai. "Kami tidak mau jadi partai kagetan, mendadak tiba-tiba mengambil sikap ketika peristiwanya terjadi, tidak demikian. Kami ini kan bukan partai baru lahir," kata Ferdinand, Sabtu, 11 Mei 2019.

    Baca: Gerindra Minta Demokrat Keluar Koalisi, Sandiaga: Kami Solid

    Dua petinggi partai banteng mengatakan Megawati sebenarnya lebih ingin berkoalisi dengan Partai Gerindra yang dipimpin Prabowo Subianto. Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu menjadi pendamping Megawati dalam pemilihan presiden 2009. Namun, Prabowo masih menolak hasil Pemilihan Umum 2019.

    Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Andre Rosiade mengatakan partainya belum membahas kemungkinan berkoalisi dengan Jokowi. Andre mengatakan keputusan itu ada di tangan Prabowo. "Kami masih meyakini Prabowo dilantik sebagai presiden."

    MAJALAH TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK, Tudingan Kubu Prabowo - Sandiaga soal Pilpres 2019

    Pada 16 Juni 2019, Tim kuasa hukum Prabowo - Sandiaga menyatakan mempersiapkan dokumen dan alat bukti soal sengketa Pilpres 2019 ke Sidang MK.