Sinta Nuriyah Wahid Mencoblos, Ini Keluhannya sebagai Lansia

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan ibu negara, Sinta Nuriyah Wahid hadir dalam pertemuan Gerakan Suluh Kebangsaan dengan KPU di Gedung KPU, Jakarta, Rabu, 10 April 2019. eruan Amien Rais itu disampaikan saat berorasi di depan massa yang berunjuk rasa di kantor KPU, 31 Maret 2019.  TEMPO/Muhammad Hidayat

    Mantan ibu negara, Sinta Nuriyah Wahid hadir dalam pertemuan Gerakan Suluh Kebangsaan dengan KPU di Gedung KPU, Jakarta, Rabu, 10 April 2019. eruan Amien Rais itu disampaikan saat berorasi di depan massa yang berunjuk rasa di kantor KPU, 31 Maret 2019. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Sinta Nuriyah Wahid, Ibu Negara pada 1999-2001, istri Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mengeluhkan proses pencoblosan Pemilu 2019. "Kalau aku repot, harus banyak dibantu orang," kata Sinta yang mencoblos dengan bantuan kursi roda di TPS 78, Kelurahan Ciganjur, Jakarta Selatan, Rabu, 17 April 2019.

    Sebagai orang lanjut tua, ia repot dengan empat surat suara yang harus dicoblos. "Melipatnya susah banget, kertasnya tebal. Jadi untuk melipatnya saja susah," kata Sinta didampingi dua putrinya saat berbincang dengan wartawan.

    Baca: Setelah Jokowi, Istri Gus Dur Akan Ditemui Prabowo Subianto

    Sinta juga mengaku heran dengan perbedaan lokasi TPS antara dirinya dengan anak-anaknya. Padahal, mereka tinggal dalam satu rumah. "Bingung. TPS kok beda-beda, kenapa tidak disamakan saja satu rumah?” ujar dia.

    Sinta pun merasa agak kesulitan meski menggunakan mobil karena tetap harus turun ke jalan utama menuju TPS. Yang membuatnya kesulitan adalah jalanan menuju TPS menggunakan paving block sehingga tidak cukup mulus jika dilewati dengan kursi roda. "Repot masuk dari sana ke sini, apalagi ini pakai paving.”

    Baca: Pesan Istri Gus Dur ke Sandiaga: Tak Boleh ada Politik Identitas

    Ia berharap keluhan-keluhan seperti yang dialaminya diperhatikan untuk penyelenggaraan pencoblosan mendatang. “Yang lebih praktis saja agar tidak menyulitkan pemilih," kata Sinta Nuriyah Wahid.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.