LSI Denny JA: Elektabilitas PSI Rendah karena Salah Strategi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pengumuman nama 49 calon legislatif dengan status mantan terpidana korupsi di kantor KPU, Jakarta, Rabu, 30 Januari 2019. Dari semua partai peserta pemilu, empat partai tidak punya stok caleg eks koruptor, yaitu PKB, Partai Nasdem, PPP dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). ANTARA/Dhemas Reviyanto

    Suasana pengumuman nama 49 calon legislatif dengan status mantan terpidana korupsi di kantor KPU, Jakarta, Rabu, 30 Januari 2019. Dari semua partai peserta pemilu, empat partai tidak punya stok caleg eks koruptor, yaitu PKB, Partai Nasdem, PPP dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). ANTARA/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Rendahnya elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia  atau PSI yang mencitrakan diri sebagai partai milenial menurut peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar akibat salah strategi.

    Baca juga: Ceramah di Masjid, Kivlan Zen Sindir PSI yang Tolak Perda Syariah

    "PSI mengambil visi dan misi yang belum tentu disukai khalayak ramai," kata Rully usai pengumuman hasil survei lembaganya di Jakarta, Jumat, 5 April 2019.

    Berdasar hasil survei LSI Denny JA, PSI yang digadang-gadang sebagai partai alternatif itu hanya meraih 0,2 persen, jauh dari ambang batas parlemen empat persen.

    Partai yang dipimpin Grace Natalie itu dinilai terlalu berani bermain isu yang sangat sensitif yang mempengaruhi suara mayoritas pemilih, yakni isu penghapusan perda syariah dan poligami.

    "Kita tahu, pemilih Indonesia 90 persen muslim," kata Rully.

    Rully memahami isu penghapusan perda syariah dan poligami merupakan strategi PSI untuk meraup ceruk pemilih minoritas. Namun, melihat elektabiltas PSI yang masih nol koma, upaya tersebut pun gagal.

    "Pemilih nonmuslim ini kan belum tentu semuanya memilih PSI. Pemilih minoritas ini kan sudah merapat ke partai lama, salah satunya PDIP," kata Rully.

    Sebagai partai baru, lanjut Rully, sebenarnya PSI memiliki diferensiasi dengan parpol-parpol lain. Namun, diferensiasi ini belum bisa mengangkat elektabilitas PSI sampai saat ini.

    "PSI belum bisa meyakinkan publik bahwa PSI bisa menjadi (alat) perubahan. Ini butuh proses," ujarnya.

    Baca juga: PSI Usulkan Debat Antar-Partai Politik

    Selain PSI, menurut survei LSI Denny JA, partai yang terancam tidak lolos ke parlemen ialah PBB (0,2 persen), PKPI (0,1 persen), Partai Garuda (0,1 persen), dan Berkarya (0,7 persen).

    Sementara yang masih belum aman PAN (3,1 persen), PKS (3,9 persen), PPP (2,9 persen), Nasdem (2,5 persen), dan Perindo (3,9 persen).

    Sedangkan parpol yang potensial lolos ke Senayan adalah PDIP 24,6 persen, Gerindra 13,4 persen, Golkar 11,8 persen, Partai Demokrat 5,9 persen, dan PKB 5,8 persen.

    Survei LSI Denny JA itu dilakukan pada 18-26 Maret 2019 dengan menggunakan metode "multistage random sampling" yang melibatkan 1.200 responden di 34 provinsi.

    Survei tersebut menggunakan metode wawancara tatap muka menggunakan kuesioner dengan "margin of error" +/- 2,8 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Datang ke Istana, Ada Nadiem Makarim dan Tito Karnavian

    Seusai pelantikannya, Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah nama ke Istana Negara, Senin, 21 Oktober 2019. Salah satunya, Tito Karnavian.