Tjahjo Perintahkan Kepala Desa Ajak Masyarakat Jangan Golput

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo berbicara kepada awak media di Hotel Sultan, Jakarta, Senin, 25 Februari 2019. Tempo/Syafiul Hadi

    Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo berbicara kepada awak media di Hotel Sultan, Jakarta, Senin, 25 Februari 2019. Tempo/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan sudah memerintahkan kepala daerah hingga kepala desa untuk menggerakkan masyarakat agar tidak golput saat pemilihan umum nanti.

    Baca: Soal Fatwa MUI Golput Haram, Ma'ruf Amin: Itu Dikeluarkan 2014

    "Pemerintah sudah melakukan gerakan, kami minta semua daerah sampai tingkat desa untuk ada gerakan suksesnya pileg pilpres. Salah satunya menggerakkan masyarakat untuk datang ke TPS (tempat pemungutan suara), jangan golput," kata Tjahjo di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Selasa, 26 Maret 2019.

    Tjahjo mengatakan, tingkat partisipasi mayarakat saat memilih akan mempengaruhi secara kualitas proses demokrasi Indonesia. Ia meminta masyarakat menggunakan hak pilihnya sesuai hati nurani dan jangan golput. Ia mencontohkan, tingkat partisipasi pemilu sejal 1955 sampai 2014 cukup tinggi, yaitu mencapai 91 persen pada 1955, lalu 2014 mencapai 74 persen lebih. "Kami optimis target KPU dan pemerintah di atas 80 persen bisa terwujud," katanya.

    Sejumlah lembaga survei sebelumnya memprediksi angka golput akan meningkat di pemilihan presiden 2019. Salah satunya survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia Denny JA menunjukkan bahwa kurang lebih sebulan menjelang pemilihan presiden 2019, pemilih yang tahu pelaksanaan pilpres akan dilaksanakan pada bulan April 2019 hanya sebesar 65,2 persen.

    Berdasar riset LSI, di antara mereka yang tahu bahwa pilpres akan dilaksanakan April 2019, sebesar 75,8 persen bisa menjawab dengan benar bahwa tanggal pelaksanaan pilpres adalah 17 April 2019. "Artinya jika ditotal secara populasi, hanya 49,4 persen dari pemilih Indonesia yang terinformasi dan menjawab dengan benar bahwa pelaksanaan pilpres dan pileg dilangsungkan pada tanggal 17 April 2019," ujar peneliti LSI Denny JA, Ikrama Masloman, pada Selasa, 19 Maret 2019.

    Data KPU menunjukan bahwa dalam tiga kali pemilu terakhir, jumlah golput cukup variatif sekitar 23 persen hingga 30 persen. Pada pemilu 2004 mereka yang golput sebesar 23, 3 persen. Pada pemilu 2009, mereka yang golput sebesar 27,45 persen. Dan pada pemilu 2014, mereka yang golput sebesar 30,42 persen. Dalam tiga pemilu terakhir, ada kecenderungan kenaikan jumlah mereka yang golput.

    Baca: MUI Sebut Golput Haram, YLBHI: Money Politics Lebih Bahaya

    "Pada 2019 ini pun, kami memprediksi angka golput akan meningkat dengan segala keterbatasan informasi tersebut," ujar Ikrama.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Skenario Satu Arah Pada Arus Mudik 2019 di Tol Jakarta - Cikampek

    Penerapan satu arah ini dilakukan untuk melancarkan arus lalu lintas mudik 2019 dengan memanfaatkan jalur A dan jalur B jalan Tol Jakarta - Cikampek.