Beda Kasus Romahurmuziy dan Suryadharma terhadap Suara PPP

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Cianjur - Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan, Joko Purwanto optimistis partainya bisa melenggang ke Senayan. Operasi Tangkap Tangan Komisi Pemberantasan Korupsi atas Ketua Umum PPP, Romahurmuzy atau Romy diakuinya berdampak terhadap partainya, tapi tidak akan banyak berpengaruh pada elektabilitas.

    "Turbulensi ini memang terjadi, tetapi kami tetap optimistis bisa melewati parliamentary threshold 4 persen," kata Joko di Cianjur, Selasa 26 Maret 2019.

    Baca: Kasus Romahurmuziy, KPK Periksa Tokoh PPP Asep Saifuddin Chalim

    Joko menghitung, saat ini PPP memiliki 30 kursi di DPR RI. Jika mengacu jumlah kursi di Senayan tahun 2019 sebanyak 574 kursi. "Untuk mencapai empat persen itu (perlu) 23 kursi, kami optimistis bisa mempertahankan jumlah kursi dan melenggang ke Senayan."

    Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Barat III (Kabupaten Cianjur dan Kota Bogor) ini mengatakan partai segera merespons dengan memecat ketua umum tak lama setelah Romy ditetapkan sebagai tersangka. "Pagi-pagi ditetapkan sebagai tersangka, siang sudah kami putuskan memberhentikan Romy dari posisinya sebagai ketua umum.”

    Baca: Jajak Pendapat: Suap Romahurmuziy Pengaruhi Elektabilitas Jokowi

    Peristiwa seperti ini seperti ulangan kejadian sebelumnya. Tahun 2014, dalam situasi menghadapi pemilu, Ketua Umum PPP, Suryadharma Ali, juga ditangkap KPK.

    "Bedanya, dulu kejadian 3 bulan sebelum pemilu, jadi dampaknya terhadap partai sangat terasa.” Akan halnya saat ini Romy ditangkap hanya dalam 30 menjelang pemilu. “Partai masih solid," kata Joko.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.