Isu Agama Dinilai Masih Jadi Andalan di Pemilu 2019

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi logistik pemilu. dok.TEMPO

    Ilustrasi logistik pemilu. dok.TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Pakar hukum tata negara dari Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas, Khairul Fahmi, melihat isu agama masih menjadi faktor andalan yang berpotensi memicu konflik di Pemilu 2019, khususnya dalam masa kampanye rapat umum. Bahkan cenderung menguat.

    Baca: Petisi Anti Golput Jadi Tiket Masuk Konser Band Metal di Solo

    "Ketika pendukung sulit mengumpulkan massa dengan uang, maka isu yang bisa menghimpun emosi massa bisa pakai itu supaya hadir ke acara kampanye," kata Khairul di Upnormal Coffee, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, pada Ahad, 10 Maret 2019.

    Selain itu, penggunaan fasilitas pendidikan dan agama juga masih akan marak terjadi. Khairul mewanti-wanti publik bila menemukan salah satu pasangan calon yang berkampanye di fasilitas pendidikan dan agama dengan alasan kedekatan dengan sang pemilik. "Itu juga mesti diwaspadai," ucap Khairul.

    Sebelumnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pun sudah mengimbau agar agama tak dijadikan komoditas politik, apalagi menjelang kontestasi Pemilu 2019. Dia meminta semua pihak tak mempolitisasi isu agama demi kepentingan politiknya.

    Baca: Saran KPU Menghadapi Hasil Lembaga Survei Abal-Abal

    "Nilai-nilai substansi agama itu misalnya menegakkan keadilan, melindungi hak asasi manusia, persamaan di depan hukum. Jangan melakukan hal-hal yang membuat manusia hidup rendah dan merendahkan harkat, derajat, martabat manusia," ujar Lukman.

    ANDITA RAHMA | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?