Santri Pondok Pesanten Waria Kotagede Berkomitmen Tidak Golput

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Pondok Pesantren Waria di Kotagede Yogyakarta selama Puasa Ramadan 2017.(Tempo/Shinta Maharani)

    Suasana Pondok Pesantren Waria di Kotagede Yogyakarta selama Puasa Ramadan 2017.(Tempo/Shinta Maharani)

    TEMPO.CO, Jakarta - Para santri Pondok Pesantren untuk waria "Al-Fatah" di Kotagede, Yogyakarta, berkomitmen untuk tidak golput saat hari pemungutan suara pada Pemilu 2019.  "Kawan-kawan tidak akan golput," kata pengasuh Ponpes Al-Fatah Shinta Ratri saat ditemui di Ponpes Al-Fatah, Kotagede, Yogyakarta, Jumat, 01/2.

    Berita terkait: Ulama Depok Ajak Masyarakat untuk Tidak Golput

     

    Menurut Shinta, waria juga memiliki hak yang sama layaknya warga negara lainnya untuk memeroleh akses berpartisipasi pada Pemilu 2019. Oleh karena itu mereka tidak akan golput.

    Kendati belum mendapatkan sosialisasi dari KPU Kota Yogyakarta, menurut dia, pembicaraan mengenai pemilu mendatang sudah bergulir di Ponpes Al-Fatah. "Ketika kita memilih, pilihan itu adalah tanggung jawab kita sebagai wujud kepedulian kepada program-program pemerintah. Jadi, kita tidak akan golput," kata dia.

    Ia berharap dengan ikut menggunakan hak suara, pemerintahan dapat mengoptimalkan persamaan hak waria dengan warga negara lainnya. Misalnya,  untuk mengakses berbagai layanan kesehatan, akses pekerjaan, serta akses kesejahteraan sosial. "Kami tidak punya harapan yang muluk-muluk, artinya kami disamakan dengan warga negara yang lain, kami sudah senang," kata Shinta.

    Shinta menuturkan saat ini  masih banyak santri waria di Ponpes Al-Fatah yang terancam tidak bisa memilih pada Pemilu 2019 karena belum memiliki KTP. Hal Sebab, banyak waria yang berasal dari luar DIY tanpa membawa surat pindah.

    "Kami sedang mengadvokasi untuk kepemilikan KTP kawan-kawan waria yang ketika mereka pindah ke Yogyakarta tidak membawa surat pindah, (jumlahnya) itu lebih dari separuh komunitas," kata dia.

    Saat ini jumlah santri waria di Ponpes Al-Fatah mencapai 42 orang. Sebanyak 6 orang memiliki KTP Bantul, 12 orang ber-KTP Kota Yogyakarta, 28 orang ber-KTP Sleman. "Selebihnya ber-KTP dari luar DIY dan lainnya tidak punya KTP.”

    Untuk mengurus surat pindah itu, pada September 2018 Shinta mengaku telah mendatangi Disdukcapil Yogyakarta dan ada kesepakatan bahwa waria yang tidak punya KTP akan digolongkan sebagai penduduk telantar sehingga akan dibantu untuk mendapatkan surat identitas sementara.

    "Kalau memang tidak pindah tempat tinggal akan diberikan surat identitas sementara. Tetapi sekarang kami belum berhasil mendapat surat sementara itu," kata dia.

    Shinta berharap bisa segera mendapatkan solusi mengenai surat identitas sementara bagi santri waria di Ponpes Al-Fatah. Hal itu akan ia sampaikan saat KPU Yogyakarta melakukan sosialisasi ke ponpesnya. "Selasa nanti akan ada sosialisasi dari KPU Kota Yogyakarta," kata dia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Istilah Unicorn yang Disebut Jokowi Saat Debat Menghadapi Prabowo

    Unicorn yang disebut Jokowi, pada Debat Pilpres menghadapi Prabowo, mengacu pada empat start up, yaitu Bukalapak, Go-Jek, Traveloka, dan Tokopedia.