LSI Denny JA: Gerindra dan Golkar Berebut Runner Up Pemilu 2019

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Konferensi Nasional Partai Gerindra di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Senin, 17 Desember 2018. TEMPO/Putri

    Suasana Konferensi Nasional Partai Gerindra di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Senin, 17 Desember 2018. TEMPO/Putri

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga sigi Lingkaran Survei Indonesia atau LSI Denny JA merilis hasil sigi yang menyebut Partai Gerindra dan Golkar akan berebut posisi kedua dalam Pemilu 2019. Adapun, partai yang dalam survei berpotensi menang dalam pemilu nanti adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

    Baca: Lembaga Riset Publik: PDIP Unggul, Gerindra Urutan Kedua

    "Perebutan posisi runner up dalam pemilu nanti cenderung hanya terjadi pada dua partai, yakni Golkar dan Gerindra," ujar Peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, di kantornya, Rawamangun, Jakarta, Selasa, 8 Januari 2019.

    Ardian mengatakan, saat ini posisi Gerindra berada pada urutan kedua dan Golkar di posisi ketiga dalam hasil survei lembaganya. Sejak survei yang dilakukan pada Agustus hingga Desember 2018 itu, kata dia, Gerindra konsisten berada di posisi kedua setelah PDIP. "Tapi angka elektabilitas Partai Gerindra juga tak berjarak jauh dengan Partai Golkar yang juga konsisten di urutan ketiga," katanya.

    Ardian menjelaskan elektabilitas Gerindra saat ini berada di atas angka 10 persen dalam survei lima bulan terakhir. Dari sigi Agustus ke Desember, kata dia, elektabilitas partai ini berkisar di angka 13,1 persen, 11,5 persen, 11,3 persen, 14,2 persen, dan 12,9 persen.

    Baca: Lembaga Riset Binokular: Fadli Zon Tokoh yang Media Darling

    Adapun, Partai Golkar pada posisi ketiga masih bersaing ketat dengan Gerindra. Elektabilitas partai berlambang beringin ini dari Agustus hingga Desember berada di angka 11,3 persen, 10,6 persen, 6,8 persen, 9,7 persen, dan 10 persen.

    Menurut Ardian, selisih elektabilitas Partai Gerindra dan Partai Golkar hanya sekitar 5 persen dalam lima bulan terakhir. Selisih terkecil kedua partai terlihat pada September ketika elektabilitas Gerindra di angka 11,5 persen dan Golkar dengan 10,6 persen.

    Ardian menilai, salah satu faktor yang membuat Gerindra konsisten di posisi kedua karena sosok Ketua Umum Prabowo Subianto. Hal ini, ucap dia, membuat partai berlambang kepala garuda itu mendapat efek ekor jas karena Prabowo juga maju sebagai capres di pemilu 2019. "Kuatnya elektoral Prabowo membuat Gerindra diuntungkan," ucapnya.

    Baca: PDIP akan Terima Dana Kampanye dari Pihak Ketiga Februari 2019

    Di sisi lain, Ardian berpendapat Partai Golkar bisa berpotensi menyalip Gerindra. Alasannya, Golkar merupakan partai senior dan berpengalaman serta memiliki sumber daya caleg dan mesin partai yang mumpuni. "Namun Golkar tetap harus menemukan faktor pendongkrak elektabilitas lain agar bisa berkompetisi dengan Gerindra," tuturnya.

    Aridian mengatakan jika nanti elektabilitas Golkar tak berubah, maka partai ini untuk pertama kalinya tergeser dari posisi dua besar sejak Pemilu 1999. Sebab, tutur dia, Golkar selalu masuk dua besar yakni di pemilu 1999, 2004, 2009, dan 2014. "Jika Gerindra mampu mempertahankan posisi saat ini, maka pertama kalinua Golkar terlempar," katanya.

    Survei LSI Denny JA ini dilakukan setiap bulan dari Agustus hingga Desember 2018. Metode samplingnya menggunakan multistage random sampling dengan 1.200 responden. Pengumpulan data menggunakan wawancara tatap muka dengan menggunakan kuisioner. Adapun tingkat margin of error penelitian ini kurang lebih 2,9 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Puncak Gunung Everest Mencair, Mayat Para Pendaki Tersingkap

    Akibat menipisnya salju dan es di Gunung Everest, jenazah para pendaki yang selama ini tertimbun mulai tersingkap. Ini rincian singkatnya.