Senin, 17 Desember 2018

Survei: Publik Menilai Hoax Ratna Sarumpaet Skenario Politik

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka kasus hoax Ratna Sarumpaet saat dibawa dari Rumah Tahanan Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan tambahan pada Kamis, 11 Oktober 2018. Tempo/Adam Prireza

    Tersangka kasus hoax Ratna Sarumpaet saat dibawa dari Rumah Tahanan Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan tambahan pada Kamis, 11 Oktober 2018. Tempo/Adam Prireza

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil survei yang dilakukan Y-Publica menyebutkan sebagian besar responden menilai bahwa tindakan Ratna Sarumpaet dengan melakukan kebohongan publik telah menjadi korban pengeroyokan, merupakan skenario politik.

    Baca juga: Kasus Ratna Sarumpaet, Dahnil Anzar: Seolah-olah Kami Tersangka

    "Sebagian besar responden (40,5 persen) yang mengetahui kasus tersebut beranggapan bahwa tindakan Ratna adalah bagian dari skenario politik, sementara 39,1 persen menyatakan tidak dan 20,4 persen menyatakan tidak menjawab," kata Direktur Eksekutif Y-Publica, Rudi Hartono saat memaparkan hasil surveinya bertema "Politik Kebohongan Mengancam Pemilu 2019?", di Jakarta, Senin, 5 November 2018.

    Publik, kata dia, menilai bahwa tindakan Ratna Sarumpaet tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan posisinya sebagai salah satu juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi (71,5 persen).

    Menurut Rudi, kasus hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet berdampak luas pada masyarakat. Faktanya, hampir separuh responden (49,8 persen) mengaku mengetahui kabar itu.

    Rudi menyebutkan mayoritas responden (81,3 persen) di antara mereka yang mengetahui hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet menganggap politik kebohongan seharusnya tidak diperkenankan dalam kontestasi politik.

    "Hanya 9,5 persen saja yang setuju, dengan persepsi yang negatif soal politik. Misalnya, persepsi bahwa dalam politik segala cara dihalalkan demi untuk meraih kekuasaan," ucap Rudi.

    Ia menambahkan, penggunaan politik kebohongan memang sedang mendunia pascakemenangan Donald Trump di Amerika Serikat. Baru-baru ini gaya Trump ditiru oleh capres Brasil, Jair Bolsonaro, hingga berhasil memenangkan pemilu.

    Menurut Rudi, ada kemiripan gaya atau taktik politik yang dilakukan Trump dan Bolsonaro, yaitu mengandalkan "fake news" sebagai senjata melumpuhkan lawan politik.

    Baca juga: Polisi Selidiki Rekening Ratna Sarumpaet untuk Tragedi Danau Toba

    Populasi survei yang dilakukan oleh Y-Publica adalah warga negara Indonesia yang sudah mempunyai hak memilih dan dipilih, yaitu berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Jumlah sampel adalah 1.200 responden yang dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling), mewakili 34 provinsi di Indonesia.

    Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka kepada responden terpilih dengan menggunakan kuesioner.

    Pengambilan data dilakukan pada 10-20 Oktober 2018 dan margin error adalah 2,98 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".