Senin, 17 Desember 2018

SBY ke Caleg Demokrat: Jangan Umbar Janji yang Muluk-muluk

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama dengan para kader Partai Demokrat mengangkat tangannya dalam perayaan ulang tahun ke-17 Partai Demokrat, di Jakarta, Senin, 17 September 2018. Dalam perayaan ulang tahun ke-17 ini, Partai Demokrat mengangkat tema

    Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama dengan para kader Partai Demokrat mengangkat tangannya dalam perayaan ulang tahun ke-17 Partai Demokrat, di Jakarta, Senin, 17 September 2018. Dalam perayaan ulang tahun ke-17 ini, Partai Demokrat mengangkat tema "Utamakan Rakyat dan Bangun Politik yang Beradab". TEMPO/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Yogyakarta-Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  menginstruksikan semua calon anggota  legislatif (caleg) dari partainya  untuk tidak  mengumbar janji muluk. Janji-janji yang ditawarkan kepada masyarakat, kata SBY, tidak boleh terlalu tinggi, namun yang realistis dan bisa dilaksanakan.

    “Kepada para caleg Demokrat, jangan terlalu banyak berjanji. Jangan berjanji yang muluk-muluk. Saya takut kalau janjinya setinggi langit nanti malah tidak bisa ditepati,” kata SBY di depan para kader Demokrat dan warga Yogyakarta di Ndalem Benawan Rotowijayan, Sabtu malam, 27 Oktober 2018.

    Baca: Prabowo: Indonesia Tumbuh Cepat di Masa SBY, Jokowi Ugal-ugalan

    Kehadiran SBY bersama Ani Yudhoyono serta Edhie Baskoro Yudhoyono disambut antusias oleh warga. Begitu turun dari mobil SBY langsung disalami warga diiringi alunan shalawat. Lalu rombongan juga makan bersama warga menikmati hidangan angkringan.

    Presiden ke-6 itu ke Yogyakarta juga dalam rangka mendengarkan aspirasi masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari petani garam, guru PAUD, lansia, guru honorer serta pekerja dan buruh.

    SBY menegaskan instruksi itu ditujukan kepada seluruh caleg Partai Demokrat se-Indonesia mulai dari DPRD provinsi, kabupaten/kota hingga  DPR RI.
    “Saya meminta mereka selama masa kampanye ini tidak berjanji muluk-muluk setinggi langit atau memberi janji yang hampir pasti tidak bisa dipenuhi. Saya justru meminta mereka agar mendengarkan suara rakyat,” kata SBY.

    Simak: Kata SBY Soal Pertemuan IMF - World Bank di Bali

    Harapannya, kata dia, aspirasi masyarakat bisa dipenuhi oleh pemerintah setelah pemilu 2019. Bahkan jika aspirasi itu memang mendesak dan penting, pemerintah sekarang yang dipimpin Joko Widodo harus segera memenuhi. “Justru giliran rakyat yang bicara,” kata dia.

    Pertemuan yang dihadiri ratusan itu bertema Stop Berjanji, Giliran Rakyat Bicara, Dengarkan. “Hajat kami malam ini adalah ingin mendengar. Kami sungguh ingin mendengarkan harapan dan aspirasi rakyat di Yogyakarta,” tutur SBY.

    Menurut SBY, dari pemberitaan media ia mengetahui kondisi masyarakat golongan tidak mampu saat ini hidupnya susah. Mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tetapi ada juga ada yang menyatakan rakyat dalam kondisi senang dan bahagia.

    Lihat: SBY: BPK Bisa Audit Anggaran Pertemuan IMF-World Bank

    “Saya ingin mendengarkan apa yang sesungguhnya terjadi. Kalau memang baik, katakan baik. Yang sudah baik dilanjutkan, yang belum diperbaiki, seperti saya lakukan selama sepuluh tahun memimpin Indonesia,” kata dia.

    Menurut
    SBY dua periode memimpin Indonesia, ia meneruskan semua program yang baik dari presiden-presiden sebelumnya. Sedangkan program yang belum baik ia diperbaiki. “Harapan saya, Pak Jokowi meneruskan yang baik sejak Presiden Sukarno. Setelah selesai (tidak lagi menjabat presiden), Pak Jokowi pasti ingin yang sudah baik dilanjutkan. Pasti rakyat akan senang. Inilah indahnya kesinambungan pemerintahan kita,” kata dia.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".