Selasa, 11 Desember 2018

Kata PSI soal Caleg Putuskan Pacar karena Beda Partai

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Febri Wahyuni Sabran. instagram.com/uniebby

    Febri Wahyuni Sabran. instagram.com/uniebby

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon anggota legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia atau PSI Febri Wahyuni Sabran memutuskan pacar karena berbeda partai. Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni menilai hal tersebut adalah bagian dari dinamika anak muda.

    Baca: Enam Partai Diprediksi Tak Lolos ke DPR, Ada PSI dan Hanura

    "Ya itu menariknya berpartai dengan anak muda. Ada urusan-urusan politik tentunya, tapi ada juga urusan asmara begitu," kata Antoni di pos pemenangan Jokowi - Ma'ruf, Jakarta, Kamis, 13 September 2018.

    Menurut Antoni, kejadian yang dialami Febri dapat terjadi pada anak muda yang lajang, memiliki kekasih, lalu perbedaan ideologis dan pilihan partai politik mempengaruhi keputusan personal.

    Febri adalah calon legislatif PSI untuk DPR RI dari daerah pemilihan Sumatera Barat. Belakangan, ia ramai diperbincangkan warganet setelah mengaku dirinya memutuskan sang pacar lantaran berbeda partai politik.

    Cerita putus cinta Febri menjadi viral setelah akun Facebook PSI pada 29 Agustus 2018 mem-posting video yang berisi testimoni para bacaleg PSI, salah satunya adalah Febri. Dalam video berdurasi 1 menit 23 detik itu, para bacaleg diberi pertanyaan "Apa yang sudah kamu korbankan untuk menjadi caleg?"

    Baca: PSI Sarankan #2019GantiPresiden Diubah Jadi #2019PrabowoPresiden

    "Banyak banget yang aku korbanin, salah satunya putus dari mantan aku yang beda partai," jawab Febri atas pertanyaan tersebut.

    Menanggapi hal ini, Antoni mengatakan dirinya tak tahu persis penyebab putusnya Febri dengan kekasihnya. Ia mengatakan hanya mendengar bahwa kekasih Febri memiliki ideologi yang berbeda dengan PSI.

    "Kalo PSI kan anti-korupsi dan anti-intoleransi. Nah mungkin kira-kira dua nilai ini agak jadi soal begitu bagi mereka," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.