Luhut Berharap Tokoh Muda Pimpin Golkar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie berbincang dengan Wakil ketua Dewan Pertimbangan Luhut Panjaitan ketika mengawasi penghitungan cepat Pileg di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Jakarta (9/4). Dalam Hasil dari penghitungan sementara menunjukan PDI-P memimpin perolehan suara disusul Golkar, Gerindra, Demokrat dan PKB. TEMPO/Seto Wardhana

    Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie berbincang dengan Wakil ketua Dewan Pertimbangan Luhut Panjaitan ketika mengawasi penghitungan cepat Pileg di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Jakarta (9/4). Dalam Hasil dari penghitungan sementara menunjukan PDI-P memimpin perolehan suara disusul Golkar, Gerindra, Demokrat dan PKB. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus senior Partai Golongan Karya, Luhut Pandjaitan, mengatakan tidak berminat menjadi ketua umum partai berlambang beringin itu. Luhut malah berharap ketua umum yang menggantikan Aburizal Bakrie berasal dari kalangan muda. "Banyak kader-kader muda Golkar yang layak menjadi Ketua Umum Golkar," kata Luhut melalui pesan pendek, Kamis, 17 Juli 2014.

    Luhut menginginkan Ketua Umum Golkar kelak tak hanya sekadar pintar dan berharta. Dia lebih berharap puncak tertinggi malah dipegang oleh kader yang mampu memberikan teladan berorganisasi yang baik. Dia merasa selama ini Golkar miskin teladan sehingga musyawarah nasional tahun ini perlu melakukan revolusi. (Baca pula: Jokowi: Ada Partai Pendukung Prabowo yang Mendekat)

    Luhut yakin musyawarah nasional akan melahirkan perubahan di Golkar. Dia memang berharap perubahan tersebut dilakukan sesuai jadwal. Namun, setelah melihat kondisi partai yang sekarang, dia tak khawatir perubahan terjadi lebih cepat dari yang seharusnya. "Kalau itu terjadi, Golkar bisa keluar dari koalisi permanen," ujar Luhut.

    Karena itulah, Luhut memprediksi koalisi permanen akan berguncang setelah pengumuman Komisi Pemilihan Umum tanggal 22 Juli. Pengumuman yang akan menasbihkan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden terpilih akan membuat perubahan di tubuh Golkar. (Baca: Ginandjar Sebut Koalisi Permanen Golkar Ilegal)

    Sebelumnya, sejumlah kader muda Golkar mendesak pimpinan pusat untuk mengadakan musyawarah nasional sebelum 5 Oktober 2014. Munas diadakan karena kepemimpinan Aburizal Bakrie dianggap gagal pada pemilihan presiden karena tak mampu mencalonkan presiden sendiri dan malah merapat ke pasangan calon yang suara hasil pemilu legislatifnya lebih kecil dari Golkar.

    Di lain pihak, Golkar kubu Aburizal Bakrie sudah berkoalisi permanen dengan tujuh partai pengusung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dengan membentuk koalisi Merah-Putih. Koalisi permanen ini sudah dideklarasikan pada Senin, 14 Juli 2014 lalu. Deklarasi ini menjadi jaminan kesolidan tujuh partai di parlemen selama lima tahun ke depan. (Baca: Syarief Hasan Tak Hadiri Koalisi Merah Putih)

    SUNDARI


    Berita Terpopuler:
    Ahok Rogoh Kocek Rp 4 Miliar untuk Bantu Warga
    Syarief Hasan Tak Hadiri Koalisi Merah Putih
    Dilaporkan ke Mabes Polri, Jakarta Post Santai
    Panglima TNI Tabrak Tameng Prajurit


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.