Pengamat: Perang Badar Versi Amien Rais Berlebihan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua MPP DPP PAN Amien Rais. ANTARA/Yudhi Mahatma

    Ketua MPP DPP PAN Amien Rais. ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat komunikasi politik dari UIN Syarief Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto, mengatakan anologi atas pemilihan presiden 2014 yang digunakan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Amanat Nasional Amien Rais berlebihan dan tidak relevan. "Kata-kata Amien bisa memberi semacam asupan yang keliru," ujar Gun Gun ketika dihubungi, Jumat, 30 Mei 2014.

    Menurut Gun Gun, konkurensi dalam pemilu presiden tak bisa dibandingkan dengan perang pertumpahan darah seperti Perang Badar. "Perang Badar kan perang fisik. Pemilu ini lebih pada perang gagasan, jadi sungguh tak relevan," ujarnya. (Baca:Soal Perang Badar, Amien Dianggap Mainkan Isu SARA)

    Meski begitu, Gun Gun mengerti bahwa Amien mengutarakan kata-kata tersebut untuk menyuntikkan semangat kepada pendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Namun posisi Amien sebagai tokoh nasional yang paham politik, menurut Gun Gun, bisa membuat pernyataannya itu salah diinterpretasikan oleh masyarakat. "Analogi ini tidak sehat, dan Pak Amien harusnya lebih berhati-hati," katanya. (Baca:Di Acara Muhammadiyah,Amien Teriak Yel-yel Prabowo)

    Perang Badar adalah pertempuran besar pertama umat Islam bersama Nabi Muhammad SAW melawan musuh-musuhnya pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum muslim yang berjumlah 313 orang menghadapi pasukan Quraisy dari Mekah yang jumlahnya 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan muslim bisa menghancurkan barisan Quraisy. (Baca:Gus Sholah Kritik Amien Rais Soal Perang Badar )

    Ketika menghadiri acara Isra Mi'raj di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ahad lalu, Amien mengatakan pemilihan presiden serupa dengan Perang Badar. Amien lantas mengajak hadirin memilih Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

    TIKA PRIMANDARI

    Terpopuler:
    Tim Hukum Jokowi Minta Setop Politisasi Kasus Bus
    Serikat Pekerja Nasional Dukung Jokowi-JK
    Dukung Jokowi-JK, Solihin: Ingin Pemerintah Bersih  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.