Mahasiswa Depok Demo Partai Koruptor  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anak yang bernaung dibawah Urban Poor Consorsium dan Jaringan Rakyat Miskin Kota berunjuk rasa dengan membawa sapu di KPK, Jakarta, (20/11). Mereka mendukung KPK untuk membersihkan indonesia dan menyapu koruptor. TEMPO/Seto Wardhana

    Sejumlah anak yang bernaung dibawah Urban Poor Consorsium dan Jaringan Rakyat Miskin Kota berunjuk rasa dengan membawa sapu di KPK, Jakarta, (20/11). Mereka mendukung KPK untuk membersihkan indonesia dan menyapu koruptor. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Depok - Kelompok yang terdiri atas belasan mahasiswa yang menamakan diri Forum Mahasiswa Tanah Air (Format) melakukan aksi menolak partai korup. Aksi berlangsung di pertigaan Jalan Margonda Raya-Juanda, Depok, Kamis, 3 April 2014.

    Dalam demonstrasi itu, mereka membentangkan spanduk dan poster serta melakukan aksi teatrikal yang menunjukan seorang pejabat korup menghina seorang warga miskin. (Baca juga: Kader Korupsi, PDIP Yakin Elektabilitas Tak Turun).

    Koordinator lapangan demonstrasi, Eko Wardaya, mengatakan partai-partai yang meramaikan Pemilihan Umum 2014 adalah partai yang saat ini terkenal dengan kader-kadernya yang korup. "Kami membawa semua bendera partai yang sudah jelas korup," katanya di tengah-tengah aksi tersebut, Kamis, 3 April 2014.

    Beberapa bendera partai yang mereka bawa yakni bendera PDIP, Golkar, PAN, PKB, PKPI, PBB, Gerindra, PPP, Hanura, Demokrat, dan PKS. Mereka juga membawa data indeks korupsi per kasus dari partai-partai tersebut.

    Eko mengimbau agar masyarakat bertindak cerdas pada 9 April 2014 dengan tidak memilih partai lama. Soalnya, partai-partai lama identik dengan kasus korupsi. "Jadilah pemilih cerdas, tolak caleg dari partai korup," katanya.

    Menurut Eko, tokoh partai politik yang namanya dirilis berbagai lembaga survei akhir-akhir ini berasal dari partai yang indeks korupsinya tinggi.

    "Data itu sesuai dengan rangkuman KPK Watch," katanya. Perilaku korup, kata dia, sudah seperti gen yang terus diwariskan dalam sistem demokrasi. "Mereka mewariskan teladan buruk dari bos-bos partainya."

    Mahasiswa lainnya, Emas Rahayu, mengatakan kondisi Pemilu 2014 darurat, sama daruratnya dengan bencana alam. Karena itu, mereka mengajak masyarakat menjadi pemilih yang cerdas. "Jangan jadi pemilih bodoh sebagai wujud cinta Tanah Air," kata mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Al Quduah itu.

    Arifin, mahasiswa lainnya, mengatakan aksi itu bukan untuk mendorong masyarakat memilih partai tertentu. Ketika ditanya apakah dia setuju dengan pilihan golongan putih (golput) karena kelompoknya menyalahkan semua partai, Arifin mengaku tidak setuju.

    "Kami tidak setuju golput. Masyarakat harus menentukan nasibnya, tapi kami ingin kasih tahu kalau partai itu korup," katanya. Arifin tak menjawab ketika ditanyai ihwal solusi apa yang bisa dia berikan kepada masyarakat agar bisa tetap memilih partai yang tidak korup.

    Dalam demonstrasinya, Format membakar beberapa bendera partai yang dianggap korup. Aksi ini menyebabkan lalu lintas di Jalan Margonda Raya sempat tersendat.

    ILHAM TIRTA

    Berita Terpopuler
    Sering Marah-marah, Berapa Tensi Ahok?
    Nyaris Separuh Pemilih Inginkan Jokowi Presiden
    Keluarga Berlusconi Jual Sahamnya di AC Miilan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Datang ke Istana, Ada Nadiem Makarim dan Tito Karnavian

    Seusai pelantikannya, Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah nama ke Istana Negara, Senin, 21 Oktober 2019. Salah satunya, Tito Karnavian.