Prabowo Akui Taksir Samad untuk Jadi Cawapres

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perjanjian batu tulis antara Megawati Soekarnoputri dan Prabowo. foto: Sarifah Sutalaksana

    Perjanjian batu tulis antara Megawati Soekarnoputri dan Prabowo. foto: Sarifah Sutalaksana

    TEMPO.CO, Jember -  Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto mengakui nama Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad, masuk dalam daftar calon wakil presiden yang akan dipilihnya. "Ya, dia salah satu nama baik yang masuk daftar (cawapres) saya," kata Prabowo setelah berkampanye di Lapangan Dukuh Dempok, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Selasa sore, 18 Maret 2014. (baca: Prabowo Mulai Bergerilya Menekan Jokowi)

    Namun, kata Prabowo, pendampingnya dalam pemilihan umum presiden 2014 akan ditetapkan seusai pemilihan umum legislatif yang digelar pada 9 April 2014. Saat ini, kata dia, Gerindra masih memfokuskan diri untuk meraup suara sebanyak mungkin. "Target sebanyak-banyaknya, untuk perubahan pemerintahan yang lebih bersih dan amanah."

    Prabowo juga kembali menyindir calon presiden dari PDI Perjuangan, Joko Widodo. "Jangan pilih pemimpin pembohong dan boneka, berbahaya."

    Sebelumnya, pada Ahad lalu, Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan keras dan diduga berkaitan dengan pencalonan Jokowi--panggilan Joko Widodo. Dia meminta masyarakat tak memilih calon presiden yang mencla-mencle. “Calon pemimpin yang mencla-mencle sangat berbahaya bagi Indonesia,” katanya. Ketika ditanya apakah pernyataan itu ditujukan kepada Jokowi, Prabowo enggan menjawab gamblang. “Saya rasa kalian sudah mengerti, kalian cuma ingin nanya saja.”

    Prabowo juga mengingatkan soal Perjanjian Batu Tulis yang ditandatanganinya dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa Megawati bakal mendukung Prabowo sebagai calon presiden pada Pemilu 2014. Prabowo meminta Megawati memberitahunya jika perjanjian itu sudah dianggap tak berlaku. (Baca: Prabowo Ungkit Janji, PDIP: Itu Mengherankan).

    Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Ari Dwipayana, mengatakan serangan terhadap Jokowi itu merupakan strategi untuk menekan elektabilitasnya menjelang pemilu presiden. Menurut Ari, serangan itu salah satunya ditujukan terhadap integritas Jokowi. Misalnya, ketidakmampuan menangani permasalahan di Jakarta atau mengingatkan janji Jokowi untuk tetap menjadi gubernur selama lima tahun.

    Strategi lain, kata Ari, yakni dengan membawa pencalonan Jokowi ke jalur hukum. Ari juga menduga Jokowi bakal dihambat saat mengajukan pengunduran diri sebagai gubernur jika memenangi pemilu presiden. (Baca: Prabowo Merasa Dikhianati Megawati).

    MAHBUB DJUNAIDY

    Berita terpopuler
    Prabowo Mulai Bergerilya Menekan Jokowi
    Kopilot MH370 Berencana Nikahi Pilot AirAsia 
    Plin-plan Soal MH370, Malaysia Diejek Publik Cina 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Datang ke Istana, Ada Nadiem Makarim dan Tito Karnavian

    Seusai pelantikannya, Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah nama ke Istana Negara, Senin, 21 Oktober 2019. Salah satunya, Tito Karnavian.